banner idul fitri
Literasi Daerah

Famato Harimao Dalam Tradisi Nias

Avatar photo
142
×

Famato Harimao Dalam Tradisi Nias

Sebarkan artikel ini
famato harimao dalam tradisi nias Sumber Antara
Famato Harimao dalam tradisi nias Gambar: Antara

Delinews24.net – Karena masyarakat Nias percaya bahwa budaya adalah kehidupan itu sendiri, mereka tidak dapat memisahkan diri darinya. Famato Harimao adalah budaya yang melakukan upacara khusus dengan membuang sesuatu yang diwakili oleh binatang, dalam hal ini Harimau. Tradisi ini dilakukan oleh penduduk Maenamölö di Nias Selatan setiap tujuh tahun sekali. Biasanya dilakukan menjelang bulan purnama, saat musim panen berakhir.

Menurut penelitian tentang Konsep Penebusan Dosa dalam Bilangan 21:4-9 dalam Wujud Budaya Famatö Harimao bagi Masyarakat Nias, leluhur masyarakat Maenamölö pada awalnya mendapatkan inspirasi untuk membuat patung seekor harimau dan mengambil babi dan ayam berwarna terbaik. Selama tujuh tahun, kedua hewan itu harus dirawat dengan baik. Mölö kemudian meminta orang-orang Maenamölö untuk tidak mengganggu kedua hewan itu.

Ini dilakukan karena kedua hewan itu akan digunakan sebagai persembahan selama pelaksanaan Famatö harimao. Inada Samihara Luo, atau Dewa pencipta, akan memberkati masyarakat Nias selama tujuh tahun karena telah menjaga kedua hewan itu dengan baik.

Dalam ritual Famato Harimao, patung harimau diusung secara berarak-arakan oleh sekelompok orang, dan kemudian dipecahkan dan dibuang ke sungai Gomo di Jumali. Ini dilakukan sebagai tanda penebusan jiwa manusia bagi siapa pun yang melanggar Fondrakö, atau hukum adat masyarakat Nias.

Si Ulu, seorang tokoh yang dihormati oleh masyarakat Maenamolo dan imam sekaligus panglima, akan memimpin prosesi Famatö Harimao. Tradisi ini dimulai dengan mengundang seluruh warga untuk berkumpul.

Dalam tradisi ini, bahan dasar pembuatan patung Harimau berasal dari pohon Fösi, karena masyarakat Nias percaya bahwa daun yang berguguran dari pohon ini menandakan datangnya penyakit di desa. Kepala patung harimau harus menyerupai seekor ular naga, seperti Larasa, Dewa Adat dan tokoh Jejadian.

Patung Harimau akan meniru tubuh serigala yang digambarkan sebagai Siliwangi, tokoh Siluman. Sementara tinggi usungan patung sembilan tingkat itu menggambarkan simbol Teteholi Ana’a (sorga), yang dianggap memiliki sembilan lapisan atau tingkatan.

Menurut penelitian tentang Konsep Penebusan Dosa dalam Bilangan 21:4-9 dalam Wujud Budaya Famatö Harimao bagi Masyarakat Nias, upacara Famatö Harimao sekarang disebut Famadaya Harimao atau perarakan patung harimau. Tujuan dari perubahan ini adalah untuk menjaga budaya dan menghilangkan makna spiritual keagamaan dari upacara tersebut. Itu juga karena sebagian besar orang Nias menjadi Kristen.