Peristiwa

Formapera Kecam Kasus Petasan Berbahan Kertas Alquran Di Ciledug Kota Tangerang

×

Formapera Kecam Kasus Petasan Berbahan Kertas Alquran Di Ciledug Kota Tangerang

Sebarkan artikel ini

Deli Serdang || Delinews24.net

Kasus petasan di Ciledug Kota Tanggerang menggunakan kertas yang diduga Alquran yang mengandung ayat ayat suci umat Islam, mendapat perhatian dan kecaman berbagai elemen masyarakat muslim.

Kasus yang kini dalam tahap proses penyelidikan oleh Polres Metro Tangerang Kota, terus dilakukan.

“Terkait adanya kertas bertuliskan Alquran yang digunakan sebagai pembungkus kulit petasan sedang diselidiki,” kata Kasubag Humas Polres Metro Tangerang Kota Kompol Abdul Rachim saat dikonfirmasi oleh beberapa awak media pada, Senin 13 September 2021.

Sebelumnya Walikota Tangerang dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tangerang telah angkat bicara dan mengecam tindakan tersebut, kini keterkaitan kejadian tersebut turut pula mendapat respon dan kecaman dari LSM Forun Masyarakat Pemantau Negara (Formapera) Kabupaten Deli Serdang, melalui Kabid Agama Muhammad Najib, sepertia apa yang disampaikan olehnya kepada Delinews24.net

” Alquran adalah kitab suci umat agama Islam yang ayat-ayatnya dibaca dalam shalat dan sangat dimuliakan dalam kehidupan Umat Islam. Alquran sebagai cahaya dan petunjuk (huda) dalam berbagai permasalahan dalam hidup, sehingga memuliakannya dan menjaganya adalah kewajiban”, katanya

Menurutnya, Ketika ayat Alquran dituliskan di kertas, maka kertas itu menjadi mulia. Ketika ayat Alquran dituliskan di dinding maka dinding itu menjadi mulia. Jadi kemuliaan kertas dan dinding tersebut karena tercantum ayat Alquran di atasnya.

“Oleh karena itu, menjadikan lembaran kertas yg tertulis ayat al-Qur’an diatasnya untuk bungkus petasan adalah penghinaan dan bahagian dari unsur penistaan terhadap Alquran itu sendiri. Hal ini sama dengan membakar Alquran dengan tujuan merendahkannya sebagaimana pernah terjadi di Eropa dan di Amerika, jelas Najib lagi.

Jangankan membakarnya, merobeknya dengan tujuan melecehkan adalah penghinaan dan penistaan terhadap Alquran. Kita diajarkan oleh guru mengaji kita, untuk memeluk Alquran (mushaf al-Qur’an) di dada kita ketika membawanya dan menciumnya manakala selesai membacanya,” tambahnya

M.Najib Ketua Bidang Agama LSM Formapera Deli Serdang

Hal lain, kata Najib, Alquran tidak terbantahkan, sebagai Mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW yang sampai detik ini masih ada, karena Alquran satu-satunya kitab yang tidak pernah putus dibaca, dipelajari, dikaji, dan ditafsirkan bahkan satu-satunya kitab di muka bumi ini yg paling banyak penghafalnya.

“Sejak Alquran diturunkan hingga hari ini terus dibaca dan dihafal. Kebenaran isinya telah teruji baik menurut akal maupun perkembangan sains modern. Kemajuan teknologi membuktikan hari demi hari kebenaran kandungan Alquran.

Oleh karena itu, dalam hukum Islam orang yang dengan sengaja melecehkan Alquran wajib diperangi dan dihukum seberat-beratnya atau dihukum mati.

“Karena bukan hanya melecehkan kitab suci umat Islam, akan tetapi dapat memicu kerusuhan di tengah-tengah umat beragama. Kita berharap hal itu tidak perlu terjadi. Dan semoga perbuatan tercela terhadap Alquran ini tidak berulang kembali dengan penegakan dan kepastian hukum, tandas Najib lagi.

Najib juga meminta kepada pihak kepolisian untuk segera mengungkap kasus yang dipandang hematnya adalah perbuatan penistaan bagi umat Islam.

Jadi, kita meminta kepada pihak berwenang untuk menuntaskan permasalahan ini, karena ini sudah masuk katagori penistaan agama isalam, apalagi kejadian inj sudah viral, jadi agar tidak menimbulkan kebingungan di tengah tengah ummat dan masyarakat, segera usut tuntas” tutup Najib mengakhiri.

Diketaui, kasus itu sempat viral dari video yang diunggah di media sosial instagram, @ciledug24jam dan menjadi konsumsi publik, tampak dalam video kertas-kertas petasan berserakan di sebuah lahan di dekat rumah warga. Saat didekati, ternyata kertas-kertas tersebut bertuliskan ayat suci Alquran. Diduga kejadian ketika salah satu warga melakukan hajatan pesta di Kota Ciledug Tangerang saat itu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *