banner idul fitri
Sejarah

TEUKU UMAR

105
×

TEUKU UMAR

Sebarkan artikel ini

#mendapat bayaran atas nilai sayembara kepalanya sendiri –

Teuku Umar benar-benar mendapat bayaran atas nilai sayembara kepalanya sendiri. Uang sebesar 25.000 dolar itu diserahkan kepada Teuku Umar pada September 1896.

Kisah ini diawali dari kesulitan Pemerintah Koonial Belanda untuk menaklukkan perlawanan Teuku Umar. Karenanya Pemerintah Kolonial Belanda mengadakan sayembara untuk menangkap Teuku Umar hidup atau mati dengan imbalan 25.000 dolar.

Hansen, kapten kapal Hoc Canton, penyelundup senjata ke Aceh, mencoba menangkap Teuku Umar demi hadiah. Tapi ia, kawannya masinis Robert Mc Gulloch & Lanberker asal Jerman, mati ditembak Teuku Umar di atas kapal mereka sendiri.

Masinis kapal kedua John Fay bersama istri Hansen dan 6 awak kapal ditahan.

Kisah nyonya Hansen yang ditawan Teuku Umar itu kemudian ditulis oleh Redaktur surat kabar Java Bode yang terbit di Batavia, HC Zentgraaf dalam buku Atjeh.

Pada 15 Juni 1896, Nyonya Hansen dkk ditahan di Reugaih, Aceh Barat. Pemerintah Belanda di Aceh mengerahkan pasukannya untuk melakukan pembebasan. Armada Belanda, dipimpin Jenderal Van Teijn berangkat dari Kutaraja menuju Aceh Barat.

Jenderal Van Teijn mengultimatum Teuku Umar, Reugaih akan dibumihanguskan jika tawanan tidak dibebaskan. Tapi Teuku Umar balik mengultimatum Jenderal Van Teijn, jika Reugaih diserang maka Nyonya Hansen dan tawanan lain akan dibunuh.

Situasi ini tidak diharapkan pemerintah Belanda, jika Ny. Hansen mati, masalahnya akan rumit. Belanda akan dikecam luar dalam, terutama dari Inggris. Masalah itu sudah diberitakan surat kabar Penang Gazatte di Semenanjung Melayu.

Tak ingin lebih rumit, armada Belanda ditarik ke Kutaraja. Selanjutnya, diplomasi dilakukan. Teuku Umar meminta 40.000 dolar, tapi Belanda menyanggupinya 25.000 dolar, setara dengan nilai hadiah sayembara penangkapan Teuku Umar.

Uang itu diterima Teuku Umar, 3 bulan setelah penyerangan Hansen. Nyonya Hansen dan John Fay bersama para awak kapal Hoc Canton kemudian dibebaskan. Mereka sampai di Kutaraja pada 6 Oktober 1896.

Sumber : Iskandar Norman (Quora)