banner idul fitri
Fenomena

Pengamen Merajalela Ini Tanggapan Saya

30
×

Pengamen Merajalela Ini Tanggapan Saya

Sebarkan artikel ini

Saya pernah singgah di sebuah rumah makan. Disitu saya melihat sudah ada seorang pengamen; suara dan perawakannya menunjukkan bahwa dia hampir paruh baya.

Dia berdiri di dekat meja kasir, yang hanya beberapa langkah dari pintu masuk. Layaknya pengaman luar negeri, dia bernyanyi dan di depannya ada kotak bagi orang yang ingin menghargai suaranya.

Selama saya makan sampai selesai, saya dan pengunjung lainnya disuguhkan kurang lebih 3 atau 4 lagu. Berasa lagi makan di kafe, karena ada live music-nya.

Yang patut diacungi jempol adalah suara bapak ini bagus, tidak seperti pengemis berkedok pengamen yang biasa kita jumpai sehari-hari.

Saat membayar di kasir, saya juga ngasi duit ke bapak pengamennya, karena beliau sudah bernyanyi dengan baik.

Jadi apa tanggapan saya terhadap pengamen di Indonesia yang sudah terlalu banyak? Yang banyak itu adalah pengemis yang berkedok sebagai pengamen.

Suara jelek, alat musik ala kadarnya bahkan saya pernah melihat ada yang nyanyi cuma modali tepuk tangan doang— tidak punya etika dan sopan santun, dan setelah nyanyi satu lagu langsung maen nodong aja minta duit.

Pengemis-pengemis ini harusnya ditertibkan oleh dinas terkait.

Sedangkan kalau untuk bapak pengamen seperti cerita saya di atas, itu sebaiknya diregulasi juga kayak Singapore kalau ga salah.

Jadinya bapak pengamen itu bisa mengamen dengan aturan yang lebih jelas dan tertib.