banner idul fitri
Ramadhan 1445Renungan Ramadhan

Pernikahan Sayyidatuna Fathimah Azzahra

81
×

Pernikahan Sayyidatuna Fathimah Azzahra

Sebarkan artikel ini

Ketika Sayyidah Fatimah Azzahra’ mencapai usia ke-18, sebagian sahabat datang untuk melamarnya, diantaranya datang Sayyidina Abu Bakar, dan Rasulullah hanya diam lalu berkata,
“Aku menunggu perintah dari Allah SWT”

Kemudian datang Sayyidina Umar maka Rasulullah menjawab sebagaimana jawaban pada Sayyidina Abu Bakar.

Maka beliau berdua mendatangi Sayyidina Ali seraya berkata: “Wahai Ali engkau termasuk salah satu orang yg pertama masuk Islam dan engkau adalah begini.. begini.. dan begini.”

Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Umar memberi semangat pada Sayyidina Ali dan berkata: “Sebaiknya engkau pergi melamar Fatimah dari Rasulillah dan engkau adalah orang yang pantas dan berhak memilikinya, engkau juga adalah sepupunya.”

Maka berangkatlah Sayyidina Ali dalam keadaan sangat malu, lalu masuklah beliau kepada Rasulullah dengan rasa malu yang sangat besar, duduk di hadapan Rasulullah dan beliau saw melihat dari mata Sayyidina Ali terpancar sebuah kata-kata dan rasa malu.

Rasulullah SAW berkata: “Apa yang ada di benakmu, wahai Ali?”

Sayyidina Ali menjawab dengan mata yang berkaca-kaca, “Terlintas di benakku Fathimah, duhai Rasulallah.”

Maka Rasulullah menjawab:
“Marhaban wa ahlan.”

Ali pun terdiam dan tersipu malu. Begitu juga Nabi SAW terdiam dan malu beberapa saat yang cukup lama.

Dalam benak Rasulullah SAW ingin Sayyidina Ali untuk membuka pembicaraan, dan Sayyidina Ali dalam keadaan malu yang sangat sehingga tak mampu meneruskan kata-katanya.

Maka keluarlah Sayyidina Ali dan para sahabat telah menunggu di luar dan bertanya:
“Apa yang Rasulullah SAW katakan padamu wahai Ali?

Sayyiduna Ali menjawab: “Rasulullah SAW berkata, marhaban wa ahlan.”

Para sahabat berkata: “Wahai Ali cukup seandainya Rasulullah SAW berkata padamu satu saja, tapi Rasulullah SAW telah memberimu dua jawaban yaitu ‘marhaban wa ahlan’ tidak diragukan lagi bahwa Rasulullah telah menyetujuinya.”

Dalam riwayat yang lain, ketika Rasulullah SAW berada di masjid, Rasulullah SAW berkata: “Bahwa sesungguhnya Allah سبحانه وتعالى telah menikahkan Fathimah dengan Ali di langit dan aku telah menikahkannya dengan Ali. Maka semua sahabat yang ada di masjid pun menjadi saksi.”

Di sebahagian riwayat mengatakan, Rasulullah SAW berkata kepada Sayyidina Ali: “Ya Ali, apakah kau memiliki sesuatu yang boleh kau jadikan sebagai mahar?”

Maka Sayyidina Ali berkata:
“Wahai Rasulullah, aku tak memiliki sesuatu apapun kecuali pedang dan baju perangku.”

Karena Sayyidina Ali tergolong orang yang tidak mampu, yang tumbuh besar dalam didikan Rasulullah SAW, seperti kita ketahui bahwa beliau hidup dalam kezuhudan dan kemiskinan yang tidak memiliki apa-apa maka Sayyidina Ali pun menjawab seperti itu.

“Duhai Ali, mengenai pedangmu engkau harus tetap menggunakannya untuk berperang di jalan Allah, sedang baju zirahmu juallah!”

Maka Sayyidina Utsman membeli baju perang tersebut dengan harga 480 dirham lalu Sayyidina Ali memberikan hasil penjualan itu kepada Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW mengambil 1/3-nya untuk membeli minyak wangi dan sebagian digunakan untuk menghias rumah Sayyidah Fathimah.

Disebutkan dalam sebagian riwayat, Rasulullah SAW masuk kamar Sayyidah Fathimah untuk bermusyawarah dengannya dan berkata: “Wahai Fathimah, sesungguhnya Ali ingin meminangmu dan kau telah mengenal Ali dengan baik.”

Maka Sayyidah Fatimah diam dan tersipu malu. Rasulullah SAW mengetahui dengan diamnya Fatimah itu berarti dia telah ridha dan menyetujuinya. Maka dimulailah persiapan untuk menggelar pernikahannya.

Akan tetapi, tahukah perlengkapan apa yang dipersiapkan oleh Azzahra’?

Persiapan yang dilakukan Sayyidatuna Aisyah dan sebagian iring-iringan Ummahatul Mu’minin dengan membawa perlengkapan pernikahan menuju rumah Sayyidah Fathimah.

Lalu Sayyidatuna Aisyah berkata: “Kami gelarkan di kamar Fatimah pasir halus sebagai permadani yang menghiasi kamar Sang Bunga dan didatangkan bantal dari kulit yang didalamnya dipenuhi dengan pelepah kurma yang mana bantal ini bakal dijadikan sebagai alas tidur mereka.”

Dengan perabot alat penggiling gandum dan bejana tempat air atau kendi juga beberapa minyak wangi serta dipersiapkan tempat menyimpan baju yang sekarang dikenal dengan nama lemari.”

Tahukah bagaimana bentuk lemari tersebut?

Sayyidah Aisyah berkata: “Kami tancapkan antara dua dinding sebatang kayu utk meletakkan pakaian mereka dan juga sebagai tempat untuk menggantungan tempat air serta barang-barang mereka, yg mana kayu ini digunakan sebagai tempat penyimpanan.”

Inilah lemari pemimpin para wanita nanti di syurga. Subhanallah

Bagaimana dulu keadaan mereka dalam kezuhudan ini. Dalam keadaan yang sangat memprihatinkan ini

Akan tetapi Nabi SAW telah memberi kabar bahwa dunia tidak pantas untuk Muhammad dan keluarga Muhammad. Dimana Rasulullah SAW tidak pernah menoleh dan disibukkan oleh dunia ini.

Kemudian Sayyidina Hamzah datang dengan membawa dua unta yang sangat istimewa sebagai jamuan makan untuk para tamu-tamu yang datang.

Sayyidah Aisyah berkata: “Maka kami memakan kurma dan kismis, demi Allah aku tak melihat pernikahan yang lebih mulia dari pernikahan Fathimah.”

Bagaimana bisa sebuah pernikahan dapat menandingi pernikahan Fathimah yang mana pernikahan Fathimah telah dirayakan di langit sebelum dirayakan di bumi.

Maka dengan ‘Inayah Allah dimulailah perayaan pernikahan. Nabi SAW pun keluar dengan membawa bighol atau binatang sejenis kuda dan berkata: “Naiklah wahai puteriku, Fathimah.”

Lalu beliau menyuruh Sayyidina Salman membawa dan menuntun ia menuju rumah Sayyidina Ali.

Rasulullah mengikuti di belakang dengan Sayyidina Hamzah beserta keluarga Bani Hasyim sebagai arak-arakan menuju rumah Sayyidina Ali.

Rasulullah SAW menyuruh sebagian perempuan- perempuan untuk mengarak Sayyidatuna Fathimah dengan disertai lantunan sya’ir-sya’ir pujian dan takbir kepada Allah, serta menarik Sayyidatuna Fathimah dalam arak-arakan tersebut.

Sungguh pernikahan yg sangat indah dan meriah. Pernikahan yg membuat seluruh alam riang gembira. Pernikahan sang puteri yg akan menjadi pemimpin para wanita di syurga nantinya.

Pernikahan yg akan menghasilkan para kesatria-kesatria yg akan menjadi pemimpin pemuda di syurga.

Para Ummahatul Mu’minin saling berlomba-lomba. Tahukah atas apa mereka saling berlomba-lomba?
Mereka berlomba-lomba untuk mendapat ridha Rasulullah SAW .

Para Ummahatul Mu’minin tahu bahwa Rasulullah SAW sangat amat mencintai puterinya ini. Tidak pernah mencintai seorang manusia pun seperti cintanya pada puterinya ini. Mereka tahu jika mereka menggembirakan dan membantu Sayyidah Fathimah, mereka mendapat tempat yang sangat khusus di hati Rasulullah SAW .

Sebagaimana kita ketahui seorang anak gadis di hari pernikahannya, siapakah yang paling diharapkan? Yang sangat diharapkan dan diperlukan adalah seorang ibu.

Tapi kemanakah Sayyidatuna Khadijah binti Khuwailid? Sesungguhnya Khadijah telah dimakamkan di bumi Makkah yang tandus.

Di hari pernikahan Sayyidah Fathimah, Rasulullah SAW teringat pada isteri tercintanya yaitu Sayyidatina Khadijah, maka Rasulullah SAW menuntun Fathimah masuk ke dalam rumah Sayyiduna Ali.

Para wanita-wanita berdatangan dan masuk ke kamar Sayyidah Fathimah. Kemudian Ummu Salamah melantunkan sya’ir-sya’ir pujian yang diiringi oleh para wanita-wanita yang berbunyi:

Sirna bi aunillahi jaaroti wasykurna hu fikulli halati (Dengan rahmat Allah, kita menjadi tetangga, rasa syukur kami atas semua nikmat ini)
Wadzkurna ma ‘an ‘ama Rabbul ‘Ula minkasyfi makruhati wa aafati (Ingatlah atas kelapangan yang Allah berikan kepada kita sehingga kita jauh dari segala malapetaka dan musibah)
Faqot hadana ba’da kufrin waqot an asyana Rabbus samawati (Juga atas hidayah serta pentunjuk Allah sehingga kita terlepas dari kekufuran dan dengan kemurahan Allah maka kita di memberi kita kehidupan)
Sima ma’a khoiri nisail waro tufda biammatin wakholati (Sehingga kami boleh bersama sebaik-baik wanita, yang mana kami siap menjadikan orang yang kami cintai sebagai tebusan keselamatanmu)
Ya bintaman facholahu dul ula bilvahyi minhu warrisalati (Wahai puteri seorang yang diagungkan dengan sebuah wahyu dan kerasulan)

Saat itu para wanita-wanita melantunkan bait-bait syair dengan riang gembira yang mana ini semua mereka lakukan dengan harapan agar dapat menggembirakan hati Sayyidatuna Fatimah.

Kemudian Nabi SAW membawa masuk Fatimah ke rumah Sayyidina Ali dan berkata: “Jangan kau sentuh isterimu sampai aku kembali.”

Maka Rasulullah SAW kembali menuju masjid untuk menunaikan sholat Isya’.

Bagaimana keadaan manusia sekarang kalau ada walimahan? Berapa banyak dengan sebab acara pernikahan menundakan urusan sholat atau bahkan meninggalkannya?

Tapi Rasulullah SAW tidak ada di dalam hatinya yang lebih mulia dari sholat. Maka Rasulullah SAW kembali ke masjid untuk melaksanakan sholat Isya bersama para sahabat dan para tamu, Nabi SAW memberikan pencerahan serta memberikan nasihat-nasihat.

Setelah itu, Rasulullah SAW dengan cepat berjalan menuju rumah Sayyidatuna Fathimah. Ketika Rasulullah SAW masuk, semua para wanita keluar kecuali satu yang tidak keluar, iaitu Asma’ binti Umais, menemani Sayyidah Fathimah berada duduk di ujung kamar.

Kemudian Nabi ﷺ berkata:
“Siapa ini?”
Asma’ menjawab: “Asma’.”
Nabi bertanya lagi:
“Binti Umais?”
Asma’ menjawab:
“Ya, wahai Rasulullah.”
“Mengapa kau tidak keluar?”

Asma’ menjelaskan: “Wahai Rasulullah, seorang anak gadis di hari seperti ini sangat memerlukan seorang teman wanita yang bisa diajak curhat dan berbincang/bercerita”

Anak gadis di hari pernikahannya, di zaman yang penuh kehormatan dan adab mungkin dia tidak mengerti perkara-perkara atau tata cara serta urusannya yang berkaitan tentang pernikahan, mungkin ia merasakan rasa malu, mungkin terjadi atasnya perkara-perkara yang tidak ia mengerti.

Asma’ kembali bertanya kepada Rasulullah SAW “Bolehkah aku temani dia?”
Maka Rasulullah SAW teramat sangat gembira, karena Asma’ membuat puterinya terhibur dan tenang.

Bagi Sayyidah Fathimah di hari seperti ini, ia sangat memerlukan ibunya, Sayyidatuna Khadijah. Dan Asma’ binti Umais berusaha menggantikan sebagai peranan Khadijah, oleh karena itu Rasulullah SAW sangat gembira.

Asma’ binti Umais berkata:
“Maka Nabi SAW pun mendoakanku dengan doa-doa yang sangat banyak.”

Demi Allah, aku sangat mengharapkan doa-doa itu. Dan inilah yang selalu ku harapkan dan ku impi-impikan.”

Asma’ binti Umais termasuk dari wanita-wanita yang penuh perjuangan dan ikut hijrah serta memiliki sebuah peranan yang besar bagi para muslimat. (Di sebahagian riwayat bukan Asma’, akan tetapi Ummu ‘Aiman)

Asma’ berkata:
“Maka Rasulullah SAW mendoakan aku, Allahummah fazh-ha minassyaithan wahfazh-ha ‘an yaminiha wa ‘an syimaliha wa min amamiha wa min khalfiha wa min fauqiha wa min tahtiha.”
Jawab asma, “Demi Allah, doa-doa itulah yang selalu ku harap atas apa-apa yang aku miliki.” (Alaihim Ridwanullahi Ta’ala)

Kemudian duduklah Nabi SAW seraya mendoakan pada kedua mempelai dan mengambil sedikit air, dan menggunakannya untuk berwudhu’ dan membaca bacakan air tersebut.

Kemudian berkata pada Fathimah: “Menghadaplah padaku.” Maka Nabi memercikkan air pada dadanya.

Nabi ﷺberkata
“Baliklah.”
Nabi memuji dengan Sayyidatina Fathimah. Yang mana beliau seorang yang ahli ibadah dan mujahadah, yang tidak pernah merasa lelah dalam menjalankan ketaatan dan jihad fi sabilillah.

Demikian Rumah Tangga Sayyiduna Ali dan Sayyidatuna Fathimah Di rumah yang sangat sederhana itu, mereka pun terbiasa hidup menjalani kisah yg terjadi.

🙏🏿

Sallu ala Nabi🌹

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *