CERPEN

Pesan WA Dari Janda Sebelah

×

Pesan WA Dari Janda Sebelah

Sebarkan artikel ini

[Makasih loh, Mas. Kamu udah mau mampir nyicipin hasil masakan aku.]

[Sama-sama, cantik. Lagian, masakan kamu tuh enak banget. Beda sekali sama masakan Meisya istriku. Dia nggak becus masak. Bikin apa-apa selalu hambar. Kadang malah suka keasinan.]

[Besok mampir lagi ya, Mas. Nanti aku masakin rendang spesial buat kamu.]

[Siap, cantik.] Balas Mas Ridho disertai emotikon kiss.

Aku kaget setengah mati membaca pesan yang ada di gawai suamiku. Tega sekali dia berbalas WA mesra dengan wanita lain. Padahal, nomor itu diberi nama Parman Ojol. Sungguh, ingin sekali kubogem wajahnya biar tahu rasa!

Tahan Meisya! Jangan keburu terbakar dengan kelakuan buruk suamimu. Justru, sekaranglah saat yang tepat untuk membuat lelaki tak tahu diri itu akan menangis darah.

Dengan perasaan tak karuan. Aku kembali meletakan ponsel Mas Ridho di atas nakas. Gemercik air dalam kamar mandi masih terdengar. Itu tandanya kalau ia masih mandi.

Gegas, kaki kuayunkan ke arah dapur. Lalu membungkus lauk pauk lengkap dengan nasi yang kumasak sore ini untuk menu makan malam nanti.

Dada yang masih bergemuruh. Tak hentinya mengingat pesan isi selalu terngiang. Enak saja dia bilang makananku tidak enak. Sudah payah aku berusaha agar makanan selalu tersaji ketika ia pulang. Eh malah dibanding-bandingkan dengan masakan orang lain yang entah siapa itu.

Kira-kira, siapa ya, yang chat-an sama Mas Ridho. Kenapa pikirku selalu tertuju sama janda sebelah. Soalnya, pernah sekali aku mendapati Mas Ridho sedang berbincang dengan wanita berbody semok itu. Ketika aku meminta Mas Ridho untuk mengajak Arga, bayi kami untuk jalan-jalan ke sekitar komplek.

Aku menghela napas. Beristighfar sejenak. Tidak baik aku suudzon padanya.

Rantang tiga susun selesai kuisi dengan makanan. Dan siap kuantar ke rumah duda depan rumah yang sudah lama tinggal sendiri.

Arga yang ada dalam stroller bayi lekas kugendong. Dan kubawa ia ke rumah Bang Sena, si duda muda yang ramah dan murah senyum.

Tok! Tok!

“Assalamualaikum …,” kataku selepas mengetuk pintu.

“Waalaikumsalam.” Tak lama, salamku terjawab. Dibersamai dengan pintu yang terbuka.

Bang Sena menyambut dengan lengkungan senyum sabit yang manis.

“Eh, Meisya, ada apa?” tanyanya ramah.

“Ini Bang, tadi aku masak banyak. Daripada nggak habis, mendingan buat Bang Sena aja deh.” Rantang berwarna pink kuangsurkan padanya.

Bang Sena lekas menerima.

“Wah, makasih ya, Mei. Baik banget. Nanti biar aku balikin rantangnya ya.”

Mata Bang Sena menatap rantang itu sumringah.

“Iya, Bang. Santai aja. Ya udah, aku pulang dulu ya, assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam. Sekali lagi, makasih ya Mei.”

Meski aku sudah jauh. Bang Sena masih berteriak berterimakasih.

*
Tepat pukul setengah tujuh. Mas Ridho memegang perut sambil membuka tudung saji.

“Loh, makanannya mana? Kok cuma tumis tauge doang?” seru Mas Ridho setengah berteriak.

Aku yang sedang membuat susu untuk Arga lantas mendekatinya.

“Oh itu, aku kan tadi masak sop buntut sama iga. Lupa kalau kamu ada kolesterol. Ya udah, masakannya aku kasih ke duda depan rumah. Kasihan dia nggak ada yang masakin. Dari pada aku masaknya kadang hambar kadang asin. Ya udah aku kasih ke dia. Biar dapat pahala, Mas.” Aku tersenyum mengatakan. Ekspresi Mas Ridho berubah seketika.

“Duda …,” lirihnya pelan. Nyaris telingaku tak mendengarnya.

Rasain! Emang enak! Makan tuh oseng-oseng tauge sama nasi doang.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *