Selamat Idul Kurban
CERBUNG

Rahasia Dibalik Cadar Istriku #2

×

Rahasia Dibalik Cadar Istriku #2

Sebarkan artikel ini

“APA ?”

“Katanya nggak tertarik sama sekali walaupun istrinya nggak pakai sehelai benang pun, eh rupa-rupanya dibuntingin juga.” Adam mencibir yang langsung didukung oleh Afif. Saat ini kedua sahabatku itu menarikku ke pojokan, aku pikir ada apa ternyata mereka hanya ingin mengolok-olokku.

“Padahal aku sudah menyiapkan diri menunggu jandanya El, eh udah bunting dia sama suami yang selalu bilang istrinya nggak nafsuin bahkan sampai diam-diam menikah lagi” Afif menimpali sambil mencibirkan bibir.

Aku tak bisa melakukan apa pun selain melotot tajam pada El yang duduk di karpet dan sibuk membuka berbagai hadiah entah dari siapa, tetapi semua yang dia keluarkan adalah barang-barang bayi. Aku juga masih shock karena apa yang El lakukan sangat di luar dugaan. Wanita itu mengaku hamil.

What the f….

Aku bahkan tak pernah tertarik untuk melihat wajahnya apalagi mengajaknya bercinta. Apa ini caranya untuk mempertahankan pernikahan kami?

“Memangnya siapa yang nyuruh kalian ke sini?”

“Istrimu lah,” sahut Afif semangat yang langsung membuatku mengernyit.

“Dia dapat nomor kalian dari mana?” Aku memainkan mata padanya. “Papa yang nyuruh kalian ke sini?”

Afif mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan chat dari nomor El.

[Kak Afif, ini Elma-istrinya Mas Alfath. Kalau ada waktu, Kakak bisa datang ke rumah malam ini setelah Isya? Tapi jangan bilang sama Mas Al ya, El sedang menyiapkan kejutan. ]

Aku langsung meringis membaca pesan El yang entah mengapa terasa sangat manis, apalagi dengan emot penuh cinta di akhiri kalimat. Tanpa basa-basi, aku langsung menyambar ponsel Afif dan menghapus pesan tersebut sekaligus menghapus kontak El.

“Kenapa di hapus, Bro?” protes Afif dengan suara yang sedikit lantang hingga menarik perhatian El.

“Kenapa, Mas?” tanyanya dengan nada yang begitu manis, membuat perutku sampai bergejolak. Aku enggan menjawab dan wanita itu melambaikan tangan, memanggilku. “Sini, Mas, kita buka sama-sama apa aja yang dibawa Papa dan Mama untuk calon anak kita.”

Calon anak kepalamu itu, Elma!

Aku hanya bisa menggeram dalam hati. Seharusnya kabar kehamilan Yara membawa duka mendalam untuk El, Papa dan Hanum. Namun, mengapa sekarang mereka justru bersuka cita? Bahkan Rayyan juga tampak senang.

Tidak bisa! Aku tidak sudi melihat keluarga itu senang.

Tiga bulan yang lalu papa memaksaku menikahi wanita itu karena jika tidak maka seluruh harta warisan akan diberikan pada Rayyan-saudara tiriku, tentu saja aku tak mau Rayyan dan pelakor yang bernama Hanum itu menikmati kekayaan Papa dan mendiang ibuku. Namun, untuk menyelamatkan kekayaan itu aku justru harus menikahi keponakan si pelakor, yaitu Elma.

Kupikir semuanya akan aman setelah aku menikahi El, aku berniat segera menceraikannya tapi papa menipuku. Dia membuatku menandatangi surat pernyataan bahwa jika aku menceraikan El dengan alasan apapun, kecuali jika El berzina dan membunuh, maka seluruh warisanku akan diberikan pada El.

Sungguh sial, ingin menyelamatkan harta dari anak pelakor malah membuatku terjebak dengan keponakan pelakor yang sekarang sudah menjadi yatim piatu itu. Oleh sebab itu, aku melakukan segala cara untuk menyingkirkan El dari hidupku, termasuk berselingkuh dengan Yara dan menghamilinya.

Namun, mengapa semuanya jadi seperti ini?

“Kata siapa wanita ini hamil?” Dengan langkah lebar aku menghampiri El, sementara Papa dan Hanum langsung menatapku dengan bingung. “El nggak mungkin hamil karena_”

“Mas Al?” El menyela, dia segera berdiri lalu menghampiriku. “Aku tahu kamu masih sulit percaya karena akan menjadi ayah secepat ini. Tapi usiamu sudah 34 tahun, Mas, kamu sudah pantas menjadi seorang ayah.”

Aku melongo. Sejak menikah, aku dan El tidak berkomunukasi layaknya sepasang suami istri sehingga baru sekarang aku tahu wanita ini pandai bersilat lidah.

“Apa yang El bilang benar, Al,” sambung Papa diiringi senyum sumringah. “Kehadiran seorang anak akan menyempurnakan pernikahan kalian.”

“Aku memang akan punya anak tapi bukan dari El melainkan dari wanita lain!” tegasku.

Seketika hening, kulihat wajah Papa pias begitu juga dengan wajah Hanum dan Rayyan. Bagus, mereka pasti merasa disambar petir sekarang.

“Aku sudah menikah lagi satu bulan yang lalu dan sekarang istri keduaku sedang hamil.” Aku melanjutkan dengan senyum sinis. Namun, senyum geli yang tiba-tiba terbit di bibir Papa membuatku langsung melongo.

“Wanita bernama Yara itu?” kekehnya.

“P-papa tahu?” Aku terbelalak tak percaya.

“El sudah memberitahu Papa kalau teman lamamu datang ke Jakarta, kalian pernah dekat waktu di London, kan? Tenang aja, El nggak cemburu kok. Kamu juga nggak perlu pura-pura jadi tukang selingkuh untuk membuat Papa kesal.”

“Pa?” Aku hanya bisa berbisik lirih. Apa-apaan ini? Kenapa tak ada yang percaya bahwa aku sudah selingkuh? Dan bagaimana bisa El tahu soal Yara?

Aku langsung menoleh, menatap Afif dan Adam yang juga tampak shock. “Sini kalian!” Aku melambaikan tangan pada kedua sahabatku. Walaupun tampak ragu, mereka mendekat. “Bilang sama mereka semua kebenarannya!” pintaku dengan tegas.

Namun, Afif dan Adam justru menatap El dengan sendu. Oh Tuhan, jangan bilang mereka akan berbohong karena tak ingin menyakiti El karena selama ini kedua sahabatku itu sering memuji El, memintaku membuka hati karena yakin El adalah wanita yang sangat baik.

“Bilang aja yang jujur!” desakku.

#bersambung