CERBUNG

Rahasia Dibalik Cadar Istriku

×

Rahasia Dibalik Cadar Istriku

Sebarkan artikel ini

“Kamu pengertian banget sih, Al, jadi makin cinta.” Yara tampak sangat senang karena aku membawa teh jahe, dia langsung mengambil gelas lalu meminumnya. “Aku memang mual tapi nggak tahu harus minum apa biar enakan.” lanjutnya setelah hampir menghabiskan satu gelas air jahe itu. “Oh ya, emang istrimu nggak curiga kenapa kamu bawa ini dari rumah?” Yara mencicit.

Yara memang tahu bahwa aku sudah menikah, aku mengakuinya tepat setelah kami bergumul indah dalam kenikmatan duniawi walau sama-sama tahu bahwa kenikmatan tersebut adalah sebuah dosa besar. Aku gelap mata karena amarah akibat dipaksa menikah dengan Elma, selain itu aku terjebak oleh nafsu karena berada di tempat yang sepi dan hanya berdua saja dengan Yara, setan pasti berpesta pora karena berhasil menggoda anak manusia dengan iman setipis tissu sepertiku.

Sementara Yara tampak sangat menyesali perbuatan kami dan aku jauh lebih menyesal ketika mendapati Yara masih perawan, gadis itu masih suci dan aku merenggut kesuciannya begitu saja hanya karena ingin mencari pelarian.

Aku merayunya, mengatakan akan bertanggung jawab apalagi pernikahanku dan El atas dasar paksaan. Aku juga mengaku bahwa tak tertarik pada istriku, tak pernah menyentuhnya atau melihat wajahnya karena sangat membencinya. Namun, Yara tetap tak mau menerimaku. Dia menghilang begitu saja setelah malam itu, kos-nya kosong dan aku tak bisa menghubunginya sama sekali.

Akan tetapi, sekitar satu bulan yang lalu dia kembali menghubungiku. Saat itu aku pikir dia datang membawa kabar kehamilannya, aku sudah sangat takut tapi ternyata Yara mengatakan sangat merindukanku dan ingin tetap bersamaku walau tahu aku sudah menikah.

Masih merasa bersalah karena telah merenggut kesuciannya, aku pun mengajaknya menikah. Selain untuk bertanggung jawab pada Yara, pernikahan ini juga bisa menjadi alasan agar El terluka sehingga dia pasti akan meninggalkanku.

Aku juga ingin Yara hamil, sebab kehamilannya akan semakin menghancurkan El. Ketika seminggu yang lalu dia mengabarkan apa yang kutunggu, aku sungguh girang tapi bukan karena akan menjadi ayah, melainkan karena El akan segera tersingkir dari hidupku.

Akan tetapi, reaksi yang El berikan kala aku mengakui per-selingkuhan itu jauh di luar dugaan dan di luar nalar. Jadi, apa arti kehadiran Yara dan janin dalam rahimnya sekarang? Mereka adalah senjataku untuk mengoyak hidup El tapi sekarang mereka menjadi senjata tumpul.

“Al?” Yara menarik lengan kemejaku. “Kok melamun? Mikirin istrimu ya?” Dia merengut, menampakkan kecemburuan yang menurutku sangat tidak perlu.

“Buat apa aku mikirin wanita nggak jelas itu?” Aku merangkul pundak Yara sambil memberi kecupan mesra di pipinya. Jujur saja, aku tak merasa mencintai wanita ini entah dulu atau sekarang. Aku memang tertarik akan kecantikannya, hubungan ranjang kami juga sangat baik, tentu saja, aku pria normal apalagi Yara tak pernah sungkan merayuku, menyeretku ke ranjang untuk menyelami kenikmatan surga dunia, tapi sampai detik ini aku masih tak merasa ada getaran cinta di hati.

“Sudah tiga bulan kalian bersama, bagaimana bisa kamu bilang dia wanita nggak jelas?” Yara bersandar manja di pundakku, jari jemarinya menyentuh dadaku, membuat gerakan abstrak di sana dan itu adalah kebiasaannya saat kami sedang mengobrol. “setidaknya saat diranjang_

“Harus berapa kali aku bilang, Sayang, aku nggak pernah berbagi kamar apalagi berbagi ranjang dengannya,” sela-ku dengan cepat. “Sejak menikah sampai sekarang, aku masih enggan melihat wajahnya. Bagiku, dia tidak lebih dari sebuah bayangan yang menumpang di rumah. Aku bahkan tidak pernah memberi nafkah lahir apalagi nafkah batin.”

“Ck!” Yara berdecak seraya duduk tegak. “Masa sih? Tiga bulan loh kalian bersama.”

“Tiga ratus bulan pun aku tetap akan menganggapnya bayangan,” kataku yakin. Senyum Yara langsung mengembang sempurna di bibirnya, membuatnya semakin cantik.

Jika El tersenyum, apakah dia juga cantik oh tidak! Mengapa aku harus memikirkan gadis tak jelas itu?

“Sayang, aku sudah memberi tahu wanita itu soal pernikahan kita dan kehamilanmu,” ujarku yang langsung membuat pupil mata Yara melebar.

“Al, kamu udah janji akan merahasiakan pernikahan kita,” protesnya. “Aku tahu kamu nggak cinta sama dia tapi bukan berarti aku mau menyakiti dia, Al, dia pasti terluka dan menangis. Aku nggak mau menjadi penyebab air mata wanita lain.”

“Sayang ….” Aku menangkup kedua pipinya dengan lembut. “Kamu juga istriku dan sekarang kamu sedang mengandung anakku, aku nggak akan menyembunyikan kamu lebih lama lagi karena kamu berhak dikenal dunia sebagai istri dari Alfath Zuhair.”

Yara menyambut penuturanku dengan senyum sumringah sedang dalam hati aku berkata, “Lebih tepatnya, kamu harus muncul ke permukaan agar bisa menyingkirkan Elma. Maafkan aku, Yara, setelah semua yang kamu berikan aku masih memanfaatkanmu. Tapi aku janji, aku tidak akan menceraikanmu walau tak ada cinta di hati untukmu.”

“Oh ya, aku harus bekerja.” Aku beranjak berdiri lalu memberikan kecupan di keningnya.

“Nanti ke sini lagi seperti biasa, kan?” tanyanya penuh harap. Namun, aku menggeleng.

“Hari ini mungkin aku akan lembur, Sayang.”

“Baiklah.” Yara mengangguk mengerti.

Aku kembali ke klinikku, klinik kesehatan yang kubangun dua tahun silam. Namun, hari ini aku tak bisa bekerja seperti biasa karena pikiranku masih kacau, terus terngiang akan reaksi tak wajar El saat tahu diam-diam aku menikah dan menghamili wanita lain.

Setelah bekerja, biasanya aku memang pulang ke kos Yara dan menghabiskan waktu dengannya tanpa ragu, seolah dia bukan istri simpananku melainkan istri sahku. Semua itu sengaja kulakukan agar El semakin merasakan bahwa keberadaannya tak pernah kuanggap.

Namun, hari ini berbeda. Aku pulang ke rumahku karena ingin bertemu dengan El. Aku yakin, seharian ini wanita itu pasti merenung dan bersedih, pasti dia menimbang keputusan untuk meminta cerai dariku walau tadi pagi reaksinya sangat tak wajar. Itu pasti hanya sandiwara.

Ah, memikirkan semua itu membuat hatiku berbunga-bunga. Namun, bunga di hatiku layu seketika saat melihat rumahku ramai. Ada Papa, Hanum, Rayyan, bahkan kedua sahabatku yang menjadi saksi pernikahanku dan Yara, Afif dan Adam.

“Mas Al, akhirnya kamu pulang juga,” kata El yang langsung berlari kecil menghampiriku. Aku tak tahu apa yang ada di balik cadar yang menutupi sebagian wajahnya tapi jika dilihat dari matanya, aku yakin El sedang tersenyum lebar. Semua orang juga menatapku dengan tatapan yang tak biasa, bahkan mereka semua tersenyum membuatku bingung, bertanya-tanya ada apa?

“Jangan lari, Sayang!” seru Papa dengan mimik wajah seperti khawatir. “Nanti kehamilanmu kenapa-kenapa lagi, itu cucu pertama Papa lho.”

“APA???!!!”

#bersambung