PERSIDANGAN

Sidang Lanjutan Perkara Pidana Pengancaman Yang Melibatkan PNS Sergai, Masuk Tahap Keterangan Saksi

×

Sidang Lanjutan Perkara Pidana Pengancaman Yang Melibatkan PNS Sergai, Masuk Tahap Keterangan Saksi

Sebarkan artikel ini

Lubuk Pakam || Delinews24.net

Sidang lanjutan pemeriksaan saksi Atas perkara pidana pengancaman dan pemerasan berdasarkan pengaduan korban RH Br S (52) warga Desa Bangunsari Baru, digelar Pengadilan Negeri (PN) Lubukpakam, Senin (6/9/2021) lalu dipimpin majelis hakim Pinta Uli Tarigan SH bersama hakim anggota Marsal Tarigan dan Asraruddin Anwar.

Sidang yang dihadiri terdakwa yang merupakan PNS di Pemkab Serdang Bedagai berinsial PS (48) warga Desa Bangun Sari Baru Kecamatan Tanjung Morawa, didampingi Penasehat Hukum Rava Ramadana, juga dihadiri Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Deli Serdang Nara Palentina Naibaho dan Daniel Sinaga.

Keterangan saksi, Boang Manalu (54) warga Desa Buntu Bedimbar mengatakan bahwa sebahagian besar keterangannya pada BAP (Berita Acara Pemeriksaan) di Polda Sumut, adalah benar dan hanya sebahagian kecil yang kurang tepat.

Diakuinya bahwa paraf dan tandatangan pada BAP adalah benar dibubuhkannya pada lembaran keterangannya, namun kabar kurang baik antara terdakwa dengan korban hanya didengarnya dari yang lain. Kemudian, foto-foto pengancaman dan pemerasan di handphone milik terdakwa langsung ditunjukkan terdakwa kepada saksi.

Pada dakwaan JPU sebelumnya, diantaranya disebutkan bahwa terdakwa meminjam uang Rp 5 Juta kepada korban sekira April 2019. Pinjaman lama belum dibayar, terdakwa kembali meminta pinajaman Rp 5 Juta dengan jaminan BPKB mobil Daihatsu pick up dengan tempat pertemuan di lokasi Indomaret Jalan Sultan Serdang Tanjung Morawa.

Saat hendak menyerahkan uang pinjaman kedua, terdakwa meminta agar uang itu diserahkan di dalam mobil terdakwa. Setelah dimohon terdakwa, uang pinjaman kedua Rp 5 Juta selanjutnya diserahkan korban di dalam mobil terdakwa. Namun setelah uang pinjaman itu diserahkan, secara tiba-tiba terdakwa melakukan tidak manusiawi kepada korban yang diabadikan pada handphone terdakwa.

Kejadian itu membuat korban marah dan mengatakan akan mengadukan perbuatan terdakwa kepada suaminya. Namun terdakwa mengatakan jika dikasi tau, maka pinjaman itu tidak akan dibayar.

Selanjutnya, Januari 2020 terdakwa menghubungi korban minta uang Rp 3 Juta untuk membayar kredit mobil. Sebulan kemudian, karena korban tidak mau memberi uang itu, terdakwa mengirimkan foto pengancaman dan pemerasan kepada handphone korban. Akhirnya korban mengirimkan uang Rp 2 Juta melalui rekening orang lain.

Dua bulan kemudian, terdakwa kembali mengancam dengan mengirimkan foto yang sama dan meminta uang Rp 3 Juta untuk membeli handphone terdakwa. Setelah didesak dengan ancaman, korban terpaksa mengirimkan kartu kredit untuk membeli hanphone seharga Rp 3 Juta.

Namun seminggu kemudian dengan nomor yang berbeda, terdakwa kembali meminta uang untuk membeli 4 unit ban mobilnya. Tidak terima merasa diperas, korban akhirnya membuat pengaduan ke Polda Sumut. Dalam sidang lanjutan perkara pidana tersebut, terdakwa dapat dijerat melanggar Pasal 368 dan Pasal 369 KUHPidana dengan ancaman hukuman sembilan tahun penjara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *