Sejarah

Tragedi Rumah Geudong 1989 – 1998

31
×

Tragedi Rumah Geudong 1989 – 1998

Sebarkan artikel ini

INDONESIA BERDARAH

Sudah tak mengejutkan bila kita mengingat Orde Baru sebagai era yang banyak pelanggaram HAM. Salah satunya terjadi di Rumah Geudong Aceh, yang masih diingat betul masyarakat Aceh lebih dari 2 dekade kemudian.

Pada 1818, Rumah Geudong dibangun di Desa Bili, Kabupaten Pidie oleh Ampon Raja Lamkuta, Hulubalang atau pemimpin yang tinggal di Rumoh Raya. Semasa melawan Belanda, Rumah Geudong kerap digunakan sebagai markas pengaturan strategi perang rakyat Aceh.

Meninggalnya Raja Lamkuta membuat rumah ini turun temurun diwariskan ke keluarganya dan keturunannya, dimulai dari sang adik Teuku Cut Ahmad.

Namun, pada era Orde Baru lebih dari 100 tahun kemudian, rumah ini diambil alih tentara tanpa sepengetahuan pemilik aslinya.

Mengapa tentara Indonesia menempati lokasi bersejarah ini?

Pada 1976, pemberontakan besar-besaran terjadi di Aceh. Pemberontakan itu disebut “Gerakan Aceh Merdeka”, sebuah gerakan separatisme rakyat Aceh yang ingin memisahkan diri dari Nusantara.

Tentu saja, Indonesia berkomitmen untuk membasmi habis segala bentuk pemberontakan dan separatisme.

Namun, sama seperti pembantaian 1965-1966, banyak warga sipil tak berdosa yang jadi korban karena langsung dituding sebagai anggota GAM.

Militer memberlakukan status Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh sejak tahun 1989. Sejak saat itu pula, Rumah Geudong diambil alih oleh TNI dan dipakai sebagai kamp konsentrasi, penyiksaan, bahkan pembunuhan warga Aceh yang diduga anggota GAM tanpa pengadilan apapun.

 

Menurut data pemerintah, terdapat 133 orang dari 55 kartu keluarga yang tercatat sebagai korban pelanggaran HAM berat di Rumah Geudong.

Salah satunya adalah seorang laki-laki yang baru berusia 5 tahun saat ia dibawa untuk disiksa ke Rumah Geudong.

Namanya Saifuddin. Saat itu, ayahnya sudah dibawa oleh TNI ke Rumah Geudong 2 tahun sebelumnya, pada 1996, karena ia diduga sebagai simpatisan GAM. Dua tahun setelahnya, sang ayah belum kembali.

Namun, warga Aceh tahu apa nasib orang-orang yang belum kembali itu.

Maka, saat ada pria tak dikenal datang tiba-tiba ke pekarangan rumah Saifuddin dan mengajak Saifuddin serta saudara-saudaranya “menjenguk Bapak”, mereka lari terbirit-birit masuk ke dalam rumah lalu mengunci pintu.

Trauma akan dibawa pergi orang asing meneror warga Aceh.

Pria itu datang kembali, kini membawa seorang tentara. Kakak sulung Saifuddin makin panik, ia merangkul adik-adiknya dan langsung kembali masuk ke rumah.

Saking paniknya, ia tak sadar Saifuddin tertinggal di luar. Berusaha lari, bocah 5 tahun itu akhirnya tertangkap.

Ia dibawa ke Rumah Geudong, di mana ia disuruh duduk di sebuah ruangan. Di lantai yang sama, rupanya ada dua ruangan lain: satu ruangan penyiksaan, satu lagi ruangan tempat meletakkan mayat mereka yang dibunuh saat disiksa…

Saifuddin kecil disiksa dengan disetrum.

Bocah 5 tahun itu menangis sejadi-jadinya. Namun, sia-sia. Musik kencang sudah biasa mewarnai Rumah Geudong. Sengaja, agar teriakan tawanan yang disiksa tak tembus keluar gedung.

Usai disetrum, Saifuddin kemudian digantung dengan kakinya diikat di atas dan kepalanya di bawah.

Anehnya, ia tak diajukan pertanyaan apapun, membuatnya heran mengapa ia tiba-tiba disiksa sebegitu perihnya.

Belum puas, tentara pun menyeret Saifuddin keluar dan berniat mencelupkan kepalanya ke dalam sumur.

Untungnya, tak jadi. Ia dibawa kembali ke dalam.

Ia ditempatkan dengan lima ibu-ibu asing di sebuah balai. Tak berhenti menangis karena sakit, syok, dan ketakutan setengah mati, salah seorang tentara kemudian memberi dua potong kue pada sang bocah agar berhenti merengek.

Beberapa jam kemudian, Saifuddin diantarkan pulang.

Ia ditinggalkan begitu saja di pekarangan rumahnya, masih syok.

Belakangan, ia baru tahu kalau selama ia disiksa, ayahnya ada di Rumah Geudong. Saifuddin disiksa habis-habisan agar sang ayah, yang sedang diinterogasi dan disiksa juga, mau buka mulut.

Saifuddin dan ayahnya hanyalah sedikit dari korban penyiksaan tanpa pengadilan yang terjadi di dalam Rumah Geudong. Angka 133 orang yang resmi didata pemerintah pun belum tentu valid, dengan sumber lainnya mengatakan ada 168 orang hilang, 378 orang tewas, dan 14 orang diperkosa.

Metode penyiksaan dan pembunuhannya pun berbeda-beda: perempuan ada yang dipotong putingnya, ditelanjangi, diperkosa, lalu para korban tewas ada yang disuruh gali liang kuburnya sendiri baru ditembak mati atau ditimbun hidup-hidup di sumur.

Pada 7 Agustus 1998, Menteri Pertahanan/Panglima ABRI Jenderal TNI Wiranto mencabut status DOM di Aceh. 20 Agustus 1998, warga Aceh ramai-ramai membakar Rumah Geudong karena menganggapnya sumber malapetaka dan trauma warga Aceh.

Saat Komnas HAM datang ke Rumah Geudong, mereka masih menemukan jejak-jejak kebengisan.

Ada sisa tulang jari tangan dan kaki, percikan darah, dan lahan kuburan massal seluas 150×180 m. Namun, isi kuburan itu kosong usai tentara memerintahkan pembersihan mayat dari liang.

Saat ini, Rumah Geudong sudah dirubuhkan sehubungan dengan program kerja penyelesaian pelanggaran HAM Jokowi. Namun, warga Aceh mengecam pembongkaran ini karena dianggap sebagai pengaburan dan penghapusan sejarah tanpa penyelesaian yang pasti.

sumber : Era.id @eradotid