banner idul fitri
Headline

Yang Ditutup-tutupi Dari Kendaraan Listrik: Iklan Rokok Lebih Jujur

104
×

Yang Ditutup-tutupi Dari Kendaraan Listrik: Iklan Rokok Lebih Jujur

Sebarkan artikel ini
Yang Ditutupi Dari Transisi Energi
Yang Ditutupi Dari Transisi Energi

Kalau lihat makanan enak, coba perhatikan dapurnya.

Anda pasti belakangan ini sering melihat sebuah iklan yang menampilkan motor listrik sebagai solusi bersih dan tenang, berbeda dengan motor konvensional yang mengeluarkan asap hitam. Di dalam narasi media, kendaraan listrik sering disoroti sebagai penyeimbang emisi karbon dan ketergantungan pada bahan bakar fosil yang terbatas. Namun, apakah klaim tersebut benar-benar mencerminkan kebenaran?

Salah satu iklan motor listrik.

Terpukau sajian makanan tanpa melihat bagaimana dapurnya

Industri tambang nikel telah berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir, terutama sebagai respons terhadap permintaan yang meningkat untuk baterai kendaraan listrik. Namun, di balik kilauan industri ini, tersembunyi dampak yang serius terhadap lingkungan, kesehatan masyarakat, dan kesejahteraan sosial yang seringkali tidak diceritakan oleh pemerintah dan pengusaha.

Klaim bahwa kendaraan listrik adalah solusi ramah lingkungan tidak hanya didorong oleh iklan perusahaan, tetapi juga diperkuat oleh berita media. Namun, sorotan media seringkali hanya menyentuh permukaan belaka. Lihatlah! Bahkan iklan rokok terlihat lebih jujur dengan menampilkan gambar seram akibat dari merokok hingga anjuran untuk menghindarinya.

Ambisi ‘Zero’ emisi minim empati

Pemerintah terlihat berkomitmen untuk mendorong adopsi kendaraan listrik. Target yang ambisius telah ditetapkan, dengan harapan mencapai 2 juta mobil listrik dan 13 juta motor listrik pada tahun 2030. Berbagai insentif dan kebijakan didukung, mulai dari subsidi pembelian hingga pembebasan aturan ganjil genap.

Namun, di balik sorotan positif ini, terdapat realitas yang lebih kompleks. Produksi kendaraan listrik sendiri memberikan dampak lingkungan dan sosial yang negatif, terutama bagi komunitas lokal yang terdampak. Proses penghasilan bahan baku, pengolahan, perakitan, distribusi, hingga industri pendukungnya, semuanya menyisakan jejak yang serius.

Sebagai contoh, proses produksi batu baterai, yang merupakan komponen vital dalam kendaraan listrik, seringkali melibatkan penggunaan unsur kimia langka seperti nikel, litium, dan kobalt. Pembukaan pabrik pengolahan nikel di beberapa wilayah telah menyebabkan konflik lahan yang serius, dengan tanah milik warga diserobot tanpa ganti rugi yang setimpal. Bahkan, sumber air masyarakat pun tercemar oleh limbah tambang nikel.

Lihat saja kasus Pulau Obi di Maluku Utara. Jatam (Jaringan Advokasi Tambang) menceritakan bagaimana dampak yang ditimbulkan oleh penambangan yang dilakukan oleh Harita Group. Sebuah bisnis konglomerasi yang dimiliki dan dikelola oleh keluarga Lim Hariyanto Wijaya Sarwono¹.

Bagaimana anak-anak perusahaan Harita Group meluluhlantakkan segala aspek dan sendi-sendi kehidupan warga lokal. Mencemari sumber air, menghancurkan lahan perkebunan warga, mencaplok tanah, mencemari udara akibat debu dan polusi bahkan intimidasi dan kekerasan yang terus-menerus bagi warga yang mempertahankan haknya.

Perusakan alam di Pulau Obi akibat penambangan nikel. Sumber Mongabay
Perusakan alam di Pulau Obi akibat penambangan nikel. Sumber: Mongabay

Produsen mobil Amerika Ford, Vale dari Brasil, Tsingshan dari Tiongkok, dan Jardine Matheson dari Hong Kong yang berinvestasi dalam proyek-proyek nikel di Indonesia juga turut bertanggung jawab atas penebangan sebagian besar hutan dengan keanekaragaman hayati paling tinggi di dunia².

Kendaraan listrik tak hanya berhenti di nikel

Dalam sorotan media yang lebih urban, fokusnya cenderung pada manfaat langsung kendaraan listrik dalam mengurangi polusi udara. Namun, pandangan ini sering kali mengabaikan dampak negatif produksi kendaraan listrik itu sendiri.

Selain itu, kendaraan listrik masih terkait dengan sumber energi yang berasal dari pembangkit listrik tenaga batu bara. Di Indonesia, sekitar 50% dari total kapasitas listrik masih berasal dari pembangkit listrik tenaga uap batu bara, yang merupakan sumber energi kotor kedua setelah lignit.

Dalam konteks ini, semakin banyaknya kendaraan listrik yang digunakan hanya akan meningkatkan permintaan akan energi listrik, yang pada akhirnya akan meningkatkan tekanan terhadap lingkungan dan sosial. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang sejauh mana kendaraan listrik dapat dianggap sebagai solusi iklim yang efektif.

Masyarakat juga butuh edukasi dan transparansi

Media memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk opini publik tentang isu ini. Namun, seringkali banyak yang gagal dalam menyajikan laporan yang lengkap dan transparan. Sangat penting untuk memiliki media yang kritis dan mengawasi proses, serta mempertanyakan klaim-klaim yang disajikan oleh pemerintah dan korporasi. Tak hanya memenuhi pesanan iklan semata.

Tambang nikel ditengarai sebagai penyebab deforestasi yang signifikan di daerah eksploitasi. Data dari Penelitian Tambang dan Energi Menengah (2022) menunjukkan bahwa sekitar 45% hutan primer telah hilang di daerah yang digunakan untuk tambang nikel di wilayah tertentu. Selain itu, pencemaran udara dan air dari aktivitas penambangan nikel telah menyebabkan kerusakan ekosistem yang signifikan. Studi oleh Institute of Environmental Studies (2023) menemukan bahwa tingkat polusi udara di sekitar tambang nikel melebihi ambang batas yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) hingga 200%.

Krisis lingkungan dan perubahan iklim merupakan tantangan global yang kompleks, dan solusinya tidak selalu sederhana. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman yang mendalam dan tindakan yang berkelanjutan dari semua pihak untuk mencapai perubahan yang nyata.

Kendaraan listrik mungkin memiliki peran penting dalam mengurangi emisi karbon di jalan raya, tetapi kita tidak boleh mengabaikan dampak lingkungan dan sosial dari produksi dan penggunaannya. Dengan pemahaman yang lebih lengkap dan kritis, kita dapat bergerak menuju solusi yang lebih berkelanjutan dan bertanggung jawab.


Referensi:

  1. Jatam – Jalan Kotor Kendaraan Listrik.
  2. Financial Times – Nickel miners linked to devastation of Indonesian forests.