Medan – Sebuah insiden tragis mengguncang warga Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal, Kota Medan, Sumatera Utara. Seorang ibu rumah tangga bernama Faizah Soraya (42) ditemukan tewas bersimbah darah akibat 20 luka tusuk di punggung dan tangan kanannya. Pelaku diduga adalah putrinya sendiri, Alica (12), seorang siswi SMP yang nekat menyerang ibunya dengan pisau dapur di tengah malam. Kejadian ini terjadi pada Rabu (10/12) sekitar pukul 04.50 WIB, di rumah sederhana mereka di Jalan Dwikora No. 1C, Link XI.
Kronologi kejadian
Kronologi mengerikan ini terungkap setelah suami korban, Alham (43), yang sedang tidur di lantai dua rumah, terbangun oleh jeritan anak sulungnya, Aljaena (14). Menurut keterangan awal Alham, malam sebelumnya—Selasa (9/12) pukul 21.30 WIB—Faizah, Aljaena, dan Alica tidur bersama di kamar lantai satu. Sekitar pukul 04.30 WIB, Aljaena berteriak memanggil ayahnya sambil berusaha menenangkan adiknya yang memegang pisau. Saat Alham tiba, istrinya sudah terkulai lemas dengan luka-luka dalam yang menganga.
“Jeritannya masih terngiang di telinga saya. Alica seperti orang kesurupan, matanya merah karena amarah,” cerita Alham dengan suara parau kepada petugas, seperti yang dilaporkan dalam dokumen awal penyelidikan. Motif sementara yang terungkap dari pengakuan pelaku adalah rasa sakit hati mendalam. Alica mengaku marah karena sehari sebelum kejadian, ia menyaksikan ibunya memarahi kakaknya, Aljaena, atas masalah kecil di rumah. “Dia bilang, ‘Mama selalu bela kakak, aku benci Mama!’” ujar Alica saat diinterogasi polisi, menurut sumber dari Polsek Sunggal.
Keluarga yang harmonis
Kepala Lingkungan (Kepling) 5 Tanjung Rejo, Tono, yang ditemui di lokasi kejadian, tampak terkejut. “Mereka keluarga biasa, terlihat akur kok. Alica anak pintar, rajin sekolah, dan Faizah ibu yang penyayang. Siapa sangka ini terjadi,” katanya kepada wartawan. Warga sekitar juga menggambarkan Faizah sebagai tetangga ramah yang sering berbagi cerita tentang kehidupan rumah tangganya. Keluarga ini berasal dari Padang Sidempuan, Sumatera Utara, dan telah tinggal di Medan selama beberapa tahun. Faizah, yang lahir pada 13 Januari 1983, dikenal sebagai ibu yang berdedikasi sepenuhnya untuk keluarga, sementara Alham bekerja sebagai sopir ojek online.
Respons aparat penegak hukum bergerak cepat. Sekitar pukul 06.00 WIB, tetangga bernama Husni melaporkan kejadian “kematian tidak wajar” ini kepada Babinsa Sertu Hasnul Wahyudi dari Koramil 0201-06/MS. Petugas Polsek Sunggal tiba pukul 06.30 WIB dan langsung memasang garis polisi untuk mengamankan Tempat Kejadian Perkara (TKP). Tim Inafis Polrestabes Medan datang pukul 07.00 WIB untuk melakukan olah TKP, termasuk pengumpulan bukti seperti pisau berdarah dan sidik jari. Jenazah Faizah dievakuasi pukul 08.15 WIB ke RS Bhayangkara Medan untuk autopsi guna memastikan penyebab kematian dan jumlah luka secara akurat.
Pelaku masih di bawah umur
Hingga Kamis (11/12) siang ini, Alica telah diamankan di Mapolsek Sunggal untuk pemeriksaan lebih lanjut. Sebagai anak di bawah umur, kasus ini kemungkinan besar akan diproses melalui mekanisme restorative justice atau pendekatan khusus anak sesuai UU Perlindungan Anak. Kapolsek Sunggal, AKP Rahman, menyatakan bahwa penyelidikan masih berlangsung. “Kami fokus pada motif dan latar belakang psikologis pelaku. Keluarga korban dalam keadaan trauma berat, dan kami koordinasikan dengan Dinas Sosial untuk konseling,” ujarnya dalam konferensi pers singkat.
Dugaan masalah psikologi anak
Tragedi ini menimbulkan duka mendalam di kalangan warga Medan Sunggal. Beberapa tetangga menggelar doa bersama di masjid setempat pada Rabu malam, sambil berbagi cerita tentang Faizah yang sering membantu acara RT. “Ini pelajaran buat kita semua. Anak seusia itu seharusnya bermain, bukan menyimpan dendam,” kata seorang warga yang enggan disebut namanya. Psikolog anak dari Universitas Sumatera Utara, Dr. Siti Nurhaliza, menyoroti isu ini sebagai contoh ekstrem dari akumulasi emosi negatif di keluarga. “Marah sesaat bisa berakibat fatal jika tidak ada ruang dialog. Orang tua perlu peka terhadap sinyal emosional anak,” katanya.
Kasus serupa di Indonesia tidak jarang terjadi, meski jarang melibatkan pelaku seusia Alica. Data Komnas Perempuan mencatat peningkatan 15% kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) pada 2025, termasuk yang melibatkan remaja. Otoritas setempat kini mendorong kampanye kesadaran mental health di sekolah-sekolah Medan untuk mencegah insiden serupa.
Keluarga Alham kini ditinggalkan dalam kehampaan. Aljaena, yang menjadi saksi utama, sedang dirawat secara psikologis. Jenazah Faizah diperkirakan akan dimakamkan besok setelah hasil autopsi keluar. Masyarakat berharap keadilan ditegakkan dengan bijak, sambil berdoa agar luka ini sembuh secepatnya.
*Update terbaru: Polisi mengonfirmasi bahwa Alica kooperatif selama pemeriksaan, dan tidak ada indikasi keterlibatan pihak lain.*











