Deli Serdang

Bahas Draft Nota Kesepakatan ST-3 DSTF Undang Bapedalitbang Deli Serdang

Avatar photo
×

Bahas Draft Nota Kesepakatan ST-3 DSTF Undang Bapedalitbang Deli Serdang

Sebarkan artikel ini
Adinkes Widaly (kiri) dan Milawaty Sembiring (kanan) membahas tentang ST-3 bersama DSTF di Cafe Rene Jalan Lintas Kualanamu.

Kualanamu | Delinews24.net – Kejelasan mengenai Swakelola Tipe 3 (ST-3) yang semakin gelap menuntut komunitas-komunitas pegiat HIV-AIDS yang tergabung ke dalam satuan tugas DSTF (Deli Serdang Task Force) untuk terus membangun strategi baru agar menemukan titik terang tentang apa yang sebenarnya terjadi dengan lumbung harapan para penderita HIV-AIDS tersebut.

Untuk itu, dalam BL 111 yang bertempat di Cafe Rene di Jalan Lintas Kualanamu, Senin (24/11) DSTF yang dikomandani oleh Hardi Dido, S.Psi., M.Psi selaku perwakilan dari Opsi Nasional lebih siap dengan draft Nota Kesepakatan (MoA) dengan beberapa stakeholder terkait sehingga tidak ada lagi keraguan tentang bagaimana nasib ST-3 yang selama ini terkatung-katung.

Selama ini, para stakeholder terkait terkesan saling lempar tanggungjawab dengan alasan bukan Tupoksinya masing-masing.

Dalam sebuah kesempatan tatap muka, Muluk perwakilan dari lembaga Caritas SPE menjelaskan kepada media ini bahwa tujuan daripada pertemuan hari ini adalah untuk mencapai kesepahaman antara DSTF dengan Bappedalitbang Deli Serdang sehingga memungkinkan pengkajian yang lebih komprehensif sehingga kasus HIV-AIDS ini benar-benar mendapat perhatian yang serius dari Pemerintah Daerah Kabupaten Deli Serdang.

Sumber: © https://delinews24.net
Muluk dari Caritas PSE (paling kanan) dengan Syamsidar Lubis (kerudung)

Sementara perwakilan dari P3AP2KB tidak tampak hadir sehingga draft Kesepakatan dengan P3AP2KB belum dapat dibahas.

Untuk mempercepat progress, lanjut Muluk hari ini semua sepakat untuk memperbaiki data real di lapangan berapa sebenarnya penderita HIV-AIDS yang ada, setidaknya dimulai dari komunitas-komunitas yang tergabung dalam DSTF.

“Untuk itu perlu dilakukan pemetaan ulang yang lebih komprehensif,” ujar Hardi Dido

Hal itu juga diamini oleh Widaly perwaklian dari Adinkes (Asosiasi Dinas Kesehatan) Provinsi Sumatera Utara.

Milawaty Sembiring selaku perwakilan dari Bappedalitbang Kabupaten Deli Serdang memberikan penjelasan terkait pentingnya pengumpulan data yang akurat atas para pengidap HIV-AIDS karena Bappeda bekerja dalam skala prioritas.

“Hal itu penting untuk mengukur tingkat urgensi suatu kasus mengingat anggaran yang terbatas. Karena itulah pihak kami mengharapkan data yang lebih konkrit agar kami dapat menganalisa dan mengevaluasi sehingga benar-benar sesuai dengan alokasi dan tujuan penyelesaian suatu kasus,” jelasnya.

Sumber: © https://delinews24.net
Beberaapa perwakilan dari komunitas yang tergabung dalam DSTF.

Untuk saat ini, data yang berhasil dihimpun oleh Taskforce terdapat 700 orang penderita yang tercatat secara resmi. Itupun merupakan data IRT atau orang-orang yang secara aktif mengambil obat ARV, belum termasuk kasus LFU (Loss Follow Up) entah karena pindah domisili, meninggal dunia, atau keadaan lain.

“Yang paling sulit itu adalah mendapatkan data penderita untuk setiap desa karena data yang berhasil dihimpun merupakan data keseluruhan se-kabupaten Deli Serdang,” tutup Muluk.