banner idul fitri
CERPEN

Dimana Ayahku

102
×

Dimana Ayahku

Sebarkan artikel ini

“Mas, lihat dompetku gak?” tanyaku kepada Mas Rafka, suamiku.

“Enggak, Dek. Mas gak lihat. Kenapa memangnya?” jawab serta tanya Mas Rafka balik.

Lelaki yang sudah membersamaiku hampir dua belas tahun lamanya itu, terlihat santai menyesap aroma kopi dalam cangkir. Dia duduk di kursi mini pantry yang tidak memiliki sekat dengan ruangan televisi.

Berbeda denganku yang sibuk menyingkap setiap barang di sudut ruangan sekarang ini. Mencari benda berbentuk persegi panjang berwarna cokelat. Tak lain ialah dompet hadiah pernikahan tahun lalu dari Mas Rafka.

Aku membuang napas kasar sembari menyeka dahi. Lalu menghempas bobotku membentur sofa empuk di ruangan televisi ini. “Dompetku gak ada, Mas. Gak tahu hilang atau nyelip di mana,” balasku lesu.

Melalui ujung mata, terlihat Mas Rafka yang beranjak dari kursinya. Membawa cangkir di tangannya dan menghampiriku. “Hilang? Kapan? Kok bisa? Dompet kamu hadiah dari Mas itu, ‘kan?”

Aku mengangguk pelan. “Iya, dompet hadiah dari kamu yang setahun terakhir aku pake, Mas. Aku juga gak tahu hilang atau lupa nyimpen. Seharian kemarin habis jalan-jalan terus pulang ke sini aku langsung tidur. Gak ngecek dulu. Capek banget aku soalnya. Cuma sempat ganti baju terus langsung tidur. Nah, baru inget tadi pas bangun. Pas aku cari di dalam tas, kok, gak ada,” jelasku kemudian.

Mas Rafka mendekat lalu duduk di sebelahku setelah meneguk kopi dalam cangkirnya. “Coba kamu inget-inget dulu aja. Mungkin aja ‘kan kamu lupa nyimpen. Kalau sampai memang hilang, ya kamu harus segera buat laporan kehilangan. Isi dompet kamu penting semua soalnya.”

Aku kembali mengangguk. “Ya makanya ini lagi aku cari, siapa tahu nyelip gitu, ‘kan. Tapi udah hampir semua tempat aku cari, gak ketemu juga, Mas. Makanya aku tanya kamu. Barangkali kamu lihat.”

Mas Rafka meletakkan cangkir di tangannya ke atas meja di depan kami. Sebelum akhirnya dia beranjak. “Biar Mas bantu cari kalau gitu.”

Tanpa menunggu jawabanku, Mas Rafka telah melenggang dari ruangan televisi ini. Meninggalkanku yang masih duduk bersandar di badan sofa.

Sejak bangun dari tidur setengah jam yang lalu. Aku sibuk mencari dompet cokelatku itu. Namun, tak kunjung kutemukan. Akhirnya aku kembali bangkit dari sofa. Meninggalkan ruang televisi untuk menyusul Mas Rafka. Aku akan kembali memeriksa setiap sudut rumah ini untuk memastikan keberadaan dompetku. Sama seperti Mas Rafka, aku pun mengharap dompet itu tidak sampai hilang.

Aku bersama Mas Rafka terduduk di ujung tempat tidur. Setelah bersama-sama menyusuri tiap sudut ruangan dan cukup melelahkan. Kurang lebih satu jam kami mencari, tetapi apa yang kami cari tak juga didapatkan.

“Kayaknya beneran hilang, Mas,” ucapku lirih. Menyesali ketidakhati-hatian ku pada barang yang begitu penting.

“Emm, coba kamu inget-inget dulu, Dek. Ke mana aja kamu kemarin? Bisa jadi tertinggal di tempat yang kamu datangi,” ujar Mas Rafka seolah ingin menghiburku.

Kuraup wajah dengan kedua tangan. Teringat seharian kemarin aku tidak hanya mengunjungi satu tempat saja. Namun, yang terakhir aku datangi yakni pusat perbelanjaan oleh-oleh khas kota ini. Di sana dompetku masih ada. Aku masih membayar oleh-oleh yang kuborong dengan uang cash. Apa mungkin dompetku dicuri tanpa sadar setelah membayar di kasir? Entahlah. Aku tak ingin menduga-duga.

“Gimana dong ini, Mas? Kayaknya aku harus telepon orang bank buat blokir semua nomor rekening sama asuransi juga.” Akhirnya aku mengambil keputusan.

“Ya udah, kamu hubungin aja sekarang. Habis itu kamu siap-siap. Jadwal liburan kita di sini udah selesai. Kita harus pulang, Sayang,” ucap Mas Rafka yang kubalas dengan anggukan kepala.

Mas Rafka beranjak dari ujung tempat tidur. Berjalan ke arah lemari lalu menyiapkan koper serta tas ranselnya dan memulai berkemas. Sementara aku mulai mengutak-atik gawai, menghubungi customer servis bank untuk mengurus pemblokiran rekening milikku.

Selesai menghubungi orang bank, aku pun menyusul Mas Rafka berkemas. Saat ini kami berada di kota Bandung dan hari ini kami sudah harus kembali ke kota Tebing Tinggi. Lima hari berlibur di sini, rasanya memang kurang. Namun, ada pekerjaan juga yang sudah menunggu kami untuk kembali ke kota Lemang.

Aku seorang fashion designer sekaligus owner dari dua butik di salah satu kota di Tebing Tinggi. Mas Rafka suamiku, merupakan event planner yang memiliki team EO yang langsung di bawah naungannya. Untuk urusan wedding, sudah pasti jasa butik milikku yang dipergunakannya. Usaha kami bisa dibilang berhasil dan semakin sukses.

Hampir dua belas tahun berumah tangga, kami tetap hanya berdua. Aku tidak pernah melahirkan anak dalam pernikahan ini. Jangankan melahirkan, hamil atau keguguran saja aku belum pernah. Sebelum Mas Rafka menikahiku, aku sudah memberitahu keputusanku bahwa aku tidak ingin memiliki anak selama kami menikah. Awalnya Mas Rafka tentu saja syok dan memikirkan matang-matang keputusanku. Namun karena mungkin sudah jodohnya, Mas Rafka akhirnya menerima pilihanku dan kami menikah.

Meski tanpa buah hati yang hadir di tengah-tengah kami. Rumah tanggaku dan Mas Rafka tetap harmonis selama ini. Mas Rafka tetap hangat dan penuh cinta dalam memperlakukanku. Lembut serta pengertian. Tidak ada yang berubah darinya selama ini. Apalagi tanda-tanda dia berselingkuh. Aku tidak menemukannya. Mas Rafka setia pada janji suci pernikahan kami.

“Mas, aku mau balik ke tempat oleh-oleh kemarin. Siapa tahu memang ketinggalan di sana. Kamu duluan aja pulang ke Tebing. Aku biar refund dulu tiket punyaku. Nanti aku pulang sendiri,” usulku karena masih penasaran akan dompet itu. Tetapi jadwal kepulangan kami memang sudah dekat. Kami seharusnya sudah on the way ke Bandara.

“Kamu yakin, Dek? Biar Mas temani kamu kalo begitu,” ujar Mas Rafka seolah tidak ingin pulang lebih dulu.

“Enggak, Mas. Kamu gak usah temenin. Aku bisa sendiri kok. Waktu kamu udah mepet lho, ini. Klien kamu juga udah pada hubungi kamu, ‘kan. Jadi mendingan kamu segera pulang, ya!”

Berdebat sebentar, Mas Rafka akhirnya setuju. Dia yang telah berpakaian rapi dan selesai berkemas segera meninggalkan penginapan ini dan melakukan perjalanan ke Bandara. Sedangkan aku, bersiap untuk kembali mendatangi pusat perbelanjaan oleh-oleh.

Menumpangi taksi online, aku pun tiba di pusat perbelanjaan oleh-oleh yang kemarin kudatangi. Aku kembali berkeliling toko besar ini. Kemudian menanyakan pada bagian keamanan, yang mungkin menemukan barang milikku itu. Namun, aku harus kecewa. Bagian keamanan sama sekali tidak mendapatkan laporan atas penemuan barang di tempat ini.

Aku menyeret langkah dengan gontai keluar dari toko oleh-oleh. Dompetku benar-benar hilang. Speechless aku dibuatnya. Surat-surat pentingku tersimpan di sana semua.

Kubawa kaki ini turun dari teras toko oleh-oleh. Menuju taksi online yang sudah di-booking untuk bolak-balik. Oleh-oleh kepulanganku kali ini sepertinya adalah berupa rasa kecewa.

“Tante! Tante!” Seseorang berteriak nyaring di belakangku.

“Tante! Tunggu, Tante!” Seorang anak kecil berambut ikal, satu tangannya menjinjing bingkai lukisan berlari tergopoh-gopoh ke arahku.

Entah siapa dia. Aku hanya melihatnya keheranan karena tidak mengenalinya sama sekali.

“Tante … Tante ini Tante Fanisa ‘kan?”

Keningku mengernyit seketika. Dari mana dia tahu namaku? Aku terpaku jadinya. Pintu mobil bahkan masih kubiarkan terbuka.

“Jawab, Tante. Betul ‘kan, nama Tante ini Fanisa?” desaknya menunggu jawabanku.

Aku akhirnya mengangguk. “Iya. Betul. Saya Fanisa. Dari mana kamu tahu nama saya?”

Bibir anak perempuan ini seketika mengembang. Dia merogoh ke dalam baju berwarna hitam yang dipakainya. “Ini, dompet Tante.” Tangan hitam anak perempuan itu terulur di hadapanku.

Netraku membulat seketika. Kututup pintu mobil dengan cepat dan mengambil dompet di tangan anak kecil ini. “Dompetku,” gumamku haru. Aku segera membuka setiap sekatnya. Semuanya masih utuh. Tidak ada yang hilang. Uang cash bahkan tak ada yang berkurang.

Anak kecil ini sepertinya orang yang jujur. Oh, Ya Tuhan. Terima kasih karena dompetku ternyata ditemukan anak ini.

Aku membatalkan kepergian setelah membayar tarif awal pada supir taksi. Aku mengajak anak kecil itu duduk di kursi teras toko oleh-oleh. Anak perempuan ini ternyata berjualan lukisan tangan. Meski gambarnya hanya sederhana, tapi tetap terlihat indah. Kutaksir usia anak perempuan ini sekitar delapan tahun.

Aku berinisiatif memborong lukisannya. Tak hanya itu, aku memberinya imbalan karena sudah bersikap jujur dan amanah mengembalikan dompet milikku. Namun, dia menolaknya.

“Tidak perlu, Tante. Kejujuranku tidak perlu Tante bayar. Itu barang milik Tante, bukan milikku. Tentu saja itu hak Tante,” ucapnya terdengar begitu tulus dan juga polos.

“Tante enggak membayar kejujuran kamu, anak manis. Tante hanya menghargainya, karena anak sekecil kamu sudah menjunjung tinggi kejujuran,” jawabku gemas.

Bibir anak kecil itu kembali melengkung menciptakan senyuman. “Tidak usah, Tante. Aku … cuma ingin bertanya pada Tante,” ucapnya terdengar ragu.

“Iya, kamu mau bertanya apa?” balasku penasaran.

“Kenapa ada foto Ayahku di dalam dompet Tante?”

Jantungku rasanya berhenti berdetak.

“A—ayah?” tanyaku tergagap. Di dalam dompetku hanya ada pas foto wajahku dan Mas Rafka yang tersimpan. Tidak ada foto lelaki lain atau anggota keluarga lain lagi di dalamnya.

Anak perempuan ini hanya mengangguk ringan. Sedangkan aku kehabisan kata-kata.

“Emm … Tante tahu di mana Ayahku?” tanyanya dengan wajah polos. Raut wajahnya nampak menahan rindu. Binar matanya menyiratkan harapan akan lelaki yang dia sebut Ayah.