Bung Endipat Wijaya, Sejarah mencatat bagaimana kekuasaan sering kali tergelincir menjadi arogansi yang mematikan. Pernyataan Anda yang membandingkan ’10 miliar’ donasi relawan dengan ‘triliunan’ uang negara -di tengah jerit tangis warga yang kelaparan dan tak terobat-bukan hanya tidak peka, Bung. Itu adalah sebuah cacat logika yang sempurna.
Anda berteriak, ‘Negara sudah keluar triliunan!’ Seolah-olah itu adalah uang dari saku pribadi Anda, atau kemurahan hati penguasa kepada hamba sahayanya. Anda lupa atau tidak belajar, Bung Endipat?.
Dalam Du Contrat Social, Rousseau mengingatkan bahwa negara itu ada semata-mata karena mandat rakyat. Triliunan rupiah itu adalah Volonté Générale (kehendak umum) yang dimaterialkan dalam bentuk pajak.
Ketika negara mengeluarkan triliunan, negara tidak sedang ‘menyumbang’. Negara sedang melunasi utang kewajibannya kepada rakyat!
Kesalahan logika Anda adalah Red Herring dan Ignoratio Elenchi. Anda mengalihkan isu dari ‘efektivitas bantuan’ menjadi ‘besaran anggaran’. Sejarah tidak akan mencatat berapa triliun yang Anda klaim sudah cairkan di atas kertas. Sejarah akan mencatat bahwa di saat rakyat Sumatra meregang nyawa, wakil rakyatnya sibuk berhitung matematika anggaran untuk menutupi ketidakbecusannya sendiri.
Pernyataan Anda bisa dinilai sebagai upaya putus asa untuk mengembalikan kepatuhan (konsensus) rakyat agar tetap memuja negara, meskipun negara gagal. Anda ingin memonopoli ‘kebaikan’ agar rakyat tidak sadar bahwa civil society bisa bekerja lebih becus daripada elite politiknya.
Kenapa Anda merasa perlu mengecilkan peran relawan yang ‘hanya’ 10 miliar itu? Gramsci akan tertawa melihat Anda. Anda sedang ketakutan kehilangan hegemoni. Anda takut narasi bahwa ‘Negara adalah satu-satunya penyelamat’ runtuh di mata rakyat. Ketika relawan non-pemerintah hadir lebih cepat, lebih taktis, dan lebih dirasakan manfaatnya dibanding negara yang lamban dengan triliunannya, itu merusak citra dominasi negara.
Ketika Anda meremehkan relawan yang turun langsung kepada korban, Anda sedang menunjukkan wajah kekuasaan yang hanya ingin mengontrol kehidupan secara abstrak, tapi abai pada penderitaan konkret. Posko ratusan itu percuma, Bung, jika fungsinya hanya sebagai monumen birokrasi, sementara fungsi vitalnya— menyelamatkan hidup-tak terjadi. Itu bukan prestasi, itu nekropolitik: pembiaran kematian atas nama prosedur negara.
Ketika Anda meremehkan relawan yang turun langsung kepada korban, Anda sedang menunjukkan wajah kekuasaan yang hanya ingin mengontrol kehidupan secara abstrak, tapi abai pada penderitaan konkret. Posko ratusan itu percuma, Bung, jika fungsinya hanya sebagai monumen birokrasi, sementara fungsi vitalnya— menyelamatkan hidup-tak terjadi. Itu bukan prestasi, itu nekropolitik: pembiaran kematian atas nama prosedur negara.
Logika Anda sesat dan cacat karena Anda memposisikan negara sebagai ‘dermawan’ dan relawan sebagai ‘pesaing’. Ketika rakyat harus berjalan ratusan kilometer untuk mencari makan karena bantuan triliunan Anda tidak sampai, itu artinya Kontrak Sosial telah cedera. Kehadiran relawan dengan ’10 miliar’- nya itu adalah tamparan keras bahwa negara telah gagal hadir di titik paling krusial. Jangan hitung nominalnya, hitung nyawa yang mereka selamatkan saat birokrasi Anda lamban!
Ave Neohistoria
Referensi buku:
- Foucault, Michel. The History of Sexuality, Volume 1: An Introduction. Translated by Robert Hurley, New York: Pantheon Books, 1978.
- Gramsci, Antonio. Selections from the Prison Notebooks. Edited and translated by Quintin Hoare and Geoffrey Nowell Smith, London: Lawrence & Wishart, 1971
- Rousseau, Jean-Jacques. The Social Contract. Translated by Maurice Cranston, London: Penguin Classics, 1968.
- Mbembe, Achille. “Necropolitics”. Public Culture
- Hurley, Patrick J. A Concise Introduction to Logic. 12th ed., Stamford: Cengage Learning, 2015.













