Jakarta|delinews24.net – Menteri ATR/BPN Nusron Wahid Tekankan Pentingnya Dialektika dalam Kuliah Umum di STPN Bersama Rocky Gerung, ATR/BPN Ungkap Keunggulan Aplikasi Sentuh Tanahku Brankas Elektronik Sertipikat Tanah, Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, secara tegas membuka ruang seluas-luasnya bagi kritik dan perdebatan akademik di lingkungan kampus kedinasan. Hal ini ia sampaikan dalam Kuliah Umum di Politeknik Agraria Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional (STPN), Sleman, Jumat (4/9/2026), yang juga menghadirkan filsuf dan pengamat politik Rocky Gerung sebagai narasumber.
Mengusung tema “Tanah, Negara, dan Rakyat: Memaknai Kembali Transformasi Pelayanan Pertanahan dalam Perspektif Kebangsaan,” acara ini menjadi panggung bagi pertukaran gagasan kritis antara pejabat negara, akademisi, dan lebih dari 500 Taruna/i STPN. Kehadiran Rocky Gerung, yang dikenal sebagai kritikus pemerintah, menjadi bukti nyata komitmen Menteri Nusron untuk menjaga tradisi dialektika.
“Tradisi dialektika berpikir, tidak boleh mati di mana pun kita berada. Sebagai insan akademik di kampus ini, meskipun ini adalah sekolah semi-kedinasan, saya minta untuk tidak segan-segan mengundang berbagai tokoh yang sifatnya kritik dan kritis terhadap negara, termasuk kritis terhadap kebijakan kita,” tegas Menteri Nusron dalam sambutannya .
Menteri Nusron menilai bahwa perbedaan pandangan bukanlah ancaman, melainkan kekayaan intelektual. Ia mengilustrasikan hal tersebut melalui “filsafat apel” yang dikaitkan dengan pemikiran Bernard Shaw. Menurutnya, menukar apel hanya akan menghasilkan jumlah yang sama, namun menukar pemikiran akan melipatgandakan wawasan .
“Kalau ada dua orang, masing-masing punya sebuah apel, kemudian kita tukarkan, maka jadinya tetap sama, masing-masing hanya memiliki satu apel. Tetapi kalau kita mempunyai dua pemikiran yang berbeda, kemudian kita saling tukarkan, maka jadinya kita mempunyai dua buah pemikiran yang berbeda. Sharing pendapat itu akan menjadikan kita kaya akan pendapat dan kaya akan hasrat,” jelasnya .
Rocky Gerung: Pikiran Harus Dibantah, Bukan Didiamkan
Senada dengan Menteri Nusron, Rocky Gerung menekankan esensi kritik dalam proses keilmuan. Ia membedakan secara tegas antara “doa” dan “pikiran”, di mana yang pertama tidak boleh dibantah, sedangkan yang kedua justru harus diuji melalui perdebatan.
“Pikiran, kuliah umum, kalau tidak ada yang bantah, dia jadi doa. Doa nggak boleh dibantah, pikiran harus dibantah. Itu bedanya,” ujar Rocky Gerung di hadapan para taruna/i .
Rocky Gerung mengajak peserta untuk menggunakan pendekatan filosofis guna “membongkar akar” konsep-konsep dasar ketatanegaraan dan pertanahan. Ia menegaskan bahwa tujuannya adalah agar tidak ada yang disembunyikan secara politis, sehingga lahir konsep-konsep yang radikal dalam artian fundamental .
“Saya sengaja mengambil cara berpikir filosofi untuk membongkar akarnya. Kita membongkar tanah untuk menemukan akar. Kita membongkar pikiran supaya tidak ada yang disembunyikan secara politis. Itu intinya,” pungkasnya .
Tiga Wajah Pemaknaan Tanah
Dalam kuliahnya, Rocky Gerung memaparkan tiga konsep pemaknaan pengelolaan tanah yang seringkali berbenturan :
- Masyarakat Adat: Memandang tanah sebagai entitas magis yang terikat dengan kehidupan dan warisan leluhur.
- Negara: Memandang tanah melalui fungsi sosial yang diatur dalam hukum dan perundang-undangan.
- Korporasi: Memandang tanah sebagai komoditas yang bernilai bisnis dan ekonomi.
Perbedaan perspektif ini menjadi inti diskusi mengenai transformasi pelayanan pertanahan yang adil dan berkeadilan sosial di Indonesia .
Kuliah umum ini turut dihadiri oleh Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama Kementerian ATR/BPN, Plt. Direktur Politeknik Agraria STPN, serta seluruh Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi. Forum ini menjadi penegasan bahwa kampus, meskipun berstatus kedinasan, wajib menjadi rumah bagi kebebasan akademik dan perdebatan sehat demi kemajuan bangsa .













