Judul diatas berasal dari sebuah Narasi yang dibagikan di group-group Whatasapp, adalah merupakan teori konspirasi. Mengaitkan rangkaian gempa di Aceh pada akhir 2025 dengan “senjata frekuensi” seperti teknologi mirip HAARP, yang diduga digunakan untuk “pembersihan teritorial” terkait tambang nikel dan food estate. Setelah memeriksa data dari sumber resmi seperti BMKG, USGS, serta laporan berita dan penelitian ilmiah, saya menyimpulkan bahwa narasi ini adalah hoax atau teori konspirasi tanpa dasar bukti ilmiah. Gempa tersebut memang terjadi dan merupakan fenomena alam, tapi klaim tentang rekayasa buatan, cahaya biru sebagai “sidik jari senjata”, dan motif politik-ekonomi hanyalah spekulasi yang sering muncul setelah bencana untuk menimbulkan ketakutan atau agenda tertentu. Berikut penjelasan detailnya, dibagi per elemen narasi:
1. Fakta tentang Gempa Beruntun di Aceh
- Kejadian Nyata: Ya, Aceh memang diguncang serangkaian gempa pada 31 Desember 2025. Menurut BMKG, ada 11 gempa di seluruh wilayah Aceh pada hari itu saja, dengan magnitudo berkisar 2,5 hingga 4,4. Contoh:
- Gempa utama M4.4 pukul 09:13 WIB, kedalaman 10 km, episenter di laut sekitar 86 km barat Calang, Aceh Jaya. Dirasakan di Aceh Besar dan Banda Aceh dengan intensitas II-III MMI (getaran ringan hingga sedang).
- Gempa lain termasuk M3.7 di Aceh Jaya pukul pagi, M2.8 di Bener Meriah, dan susulan hingga pukul 14:00 WIB. Semua gempa dangkal (<50 km) dan terkonsentrasi di sekitar sesar aktif seperti Sesar Aceh Jaya dan wilayah Gayo Lues.
- Secara keseluruhan, sepanjang 2025, Aceh mengalami 1.556 gempa (naik 39% dari 2024), dengan yang terbesar M6.3. Ini disebabkan aktivitas tektonik lempeng Indo-Australia dan Eurasia, plus peningkatan vulkanik di Gunung Bur Ni Telong (status dinaikkan ke Level III Siaga pada 30 Desember 2025 karena gempa vulkanik beruntun).
- Bukan Kebetulan dengan Bencana Sebelumnya: Aceh memang baru pulih dari longsor dan banjir bandang akhir November 2025 (disebabkan siklon tropis dan deforestasi hutan primer hingga 48.000 hektar di Gayo Lues dan sekitarnya). Namun, gempa ini tidak terkait langsung; ini pola alamiah di zona subduksi aktif. Tidak ada bukti “pembersihan” buatan—banjir dan gempa adalah risiko geologis biasa di Aceh, yang sering diperburuk oleh degradasi lingkungan seperti tambang dan food estate, tapi bukan rekayasa.
2. Cahaya Biru Plasma: Fenomena Alam, Bukan Senjata
- Kejadian Dilaporkan: Ada laporan viral dari warga Aceh Jaya, Pidie Jaya, dan Aceh Barat tentang cahaya biru horizontal sekitar 3-5 km di langit barat laut pada pukul 02:47 WIB, 31 Desember 2025. Cahaya ini diam 8 menit, tanpa suara/petir/awan, dan direkam dalam 27 video yang beredar di Telegram. Ini muncul 14 menit sebelum gempa pertama M4.2 pukul 03:09 WIB, dan gempa utama M4.4 pukul 03:14 WIB.
- Penjelasan Ilmiah: Ini bukan “triboluminescence ionosfer + pemanasan phased-array ELF” seperti diklaim. Fenomena serupa disebut earthquake lights (cahaya gempa), yang muncul karena tekanan tektonik melepaskan muatan listrik dari batuan, menciptakan plasma ionisasi di atmosfer. Atau, bisa blue jet/blue sprite—kilatan listrik di stratosfer yang jarang, sering di wilayah tropis seperti Indonesia, tapi tidak selalu terkait gempa. Tidak ada bukti ini “terkontrol” atau dari stasiun di Sabang/Lhokseumawe. Timing 14 menit hanyalah kebetulan; propagasi energi seismik alamiah bisa cepat, tapi bukan bukti militer.
- Perbandingan dengan Turki dan Maroko: Ya, cahaya biru muncul sebelum gempa Turki (Februari 2023, M7.8) dan Maroko (September 2023, M6.8). Di Turki, itu earthquake lights alami (bukan HAARP, seperti dibantah pemerintah Turki). Di Maroko, kilatan biru 3 menit sebelum gempa juga dianggap fenomena seismik-listrik, bukan rekayasa. Klaim identik ini sering dimanfaatkan konspirasionis, tapi ilmuwan seperti dari Universitas Diponegoro menjelaskan sebagai prekursor alam (plasma alam dari stres tektonik).
3. Kaitan dengan Tambang Nikel, Food Estate, dan “Senjata Frekuensi”
- Lokasi Episenter: Ya, dekat konsesi tambang PT Virtue Dragon (China) di Aceh Tengah (4,7 km) dan food estate di Gayo Lues (11 km). Deforestasi memang membuat tanah labil, meningkatkan risiko gempa/liquefaction, tapi ini bukan bukti “injeksi energi” buatan. Gempa alamiah sering terjadi di area sesar aktif, dan deforestasi hanya memperburuk dampak, bukan penyebab utama.
- HAARP dan ELF: Klaim ini klasik konspirasi. HAARP adalah program penelitian ionosfer AS (kini dikelola Universitas Alaska), bukan senjata. Tidak ada bukti HAARP bisa picu gempa—gelombang ELF (2-8 Hz) memang bisa memengaruhi ionosfer, tapi tidak cukup kuat untuk liquefaction instan di litosfer. Studi ilmiah (seperti dari Nature dan peneliti) menunjukkan klaim ini muncul via bot dan misinformasi pasca-bencana, seperti di Turki-Suriah 2023, untuk menyalahkan pihak luar. Di Aceh, ini kemungkinan trauma pasca-tsunami 2004 yang memicu spekulasi.
- Motif “Pembersihan”: Tidak ada bukti warga adat digusur via gempa buatan. Isu tambang dan food estate memang kontroversial (protes dari warga atas deforestasi), tapi ini masalah sosial-ekonomi, bukan konspirasi militer. Narasi seperti ini sering disebarkan untuk memprovokasi, tapi bisa disensor jika dianggap hoaks oleh platform.
Fakta gambar plasma biru yang beredar luas
Gambar yang beredar seperti di atas menunjukkan fenomena cahaya biru berbentuk spiral atau seperti api yang melengkung di langit malam, dengan trail tipis berwarna merah-oranye di bagian bawah, serta latar belakang pegunungan gelap dan cahaya kota di bawahnya. Setelah menelusuri melalui pencarian web, X (Twitter), dan perbandingan gambar serupa, saya menyimpulkan bahwa **gambar ini bukan berasal dari kejadian di Aceh pada 31 Desember 2025 seperti yang dikaitkan dalam narasi hoax gempa**. Ini adalah hoax yang menggunakan gambar dari peristiwa lain untuk mendukung klaim konspirasi tentang “cahaya biru plasma” sebagai senjata frekuensi atau prekursor gempa buatan. Berikut detail penelusurannya:
1. Konteks Narasi Hoax di Aceh
– Narasi yang beredar di grup WhatsApp, Facebook, X, dan Telegram menggambarkan “cahaya biru plasma horizontal sepanjang 3–5 km” yang diam selama 8 menit di atas sesar Aceh Jaya, tanpa suara atau petir, diikuti gempa beruntun. Ini diklaim sebagai bukti “senjata frekuensi” terkait tambang nikel dan food estate.
– Namun, tidak ada bukti video atau gambar asli dari Aceh yang menunjukkan bentuk spiral seperti gambar Anda. Post di X dan web hanya berisi teks narasi atau foto tangkapan layar teks, bukan gambar cahaya spiral. Fenomena sebenarnya yang dilaporkan adalah **earthquake lights** (cahaya gempa), yang berupa kilatan biru pendek atau glow statis, bukan spiral berputar. Ini disebabkan oleh tekanan tektonik yang melepaskan muatan listrik dari batuan, bukan rekayasa.
– Pakar seperti dari BMKG dan USGS membantah kaitan dengan senjata; ini pola umum konspirasi pasca-bencana, sering dicampur dengan gambar dari event lain untuk sensasi.
2. Asal Asli Gambar: Fenomena Peluncuran Roket SpaceX
– Gambar ini cocok dengan **spiral biru dari peluncuran roket SpaceX Falcon 9**, yang sering terlihat di langit malam setelah peluncuran. Spiral terbentuk saat bahan bakar beku (seperti oksigen cair) dilepaskan dari tahap atas roket, berputar dan memantulkan cahaya matahari (meski malam di Bumi, roket sudah di ketinggian di mana matahari masih terlihat). Warna biru disebabkan oleh hamburan Rayleigh (seperti langit biru siang hari), dan trail merah dari exhaust roket.
– Event serupa sering terjadi setelah peluncuran dari Vandenberg Space Force Base di California, AS, di mana latar pegunungan (seperti Santa Ynez Mountains) dan cahaya kota (seperti Lompoc atau Santa Barbara) cocok dengan gambar Anda. Bukan dari Aceh, yang pegunungannya lebih hijau dan tropis.
– Tanggal spesifik: Gambar ini mirip dengan event pada Maret 2025 (di Eropa, setelah launch dari Cape Canaveral) atau April 2023 (di Alaska). Tidak ada peluncuran SpaceX yang menciptakan spiral biru tepat pada Desember 2025 di sekitar Aceh, tapi gambar lama sering direcycle untuk hoax. Contoh gambar serupa dari event nyata:
3. Mengapa Ini Hoax dan Bagaimana Menghindarinya
– Hoax seperti ini sering memanfaatkan gambar dari roket (atau bahkan uji rudal, seperti spiral di Norwegia 2009) untuk dikaitkan dengan bencana alam, menciptakan ketakutan atau agenda anti-pemerintah/tambang. Di Aceh, gempa nyata disebabkan tektonik alamiah, diperburuk deforestasi, bukan rekayasa.
– Saran: Verifikasi gambar dengan reverse image search (seperti via Google atau TinEye), cek tanggal metadata, dan bandingkan dengan sumber resmi seperti BMKG atau USGS. Jangan sebarkan tanpa fakta, karena bisa picu kepanikan di daerah rawan bencana. Jika Anda punya video asli atau detail lebih lanjut, saya bisa telusuri lebih dalam.
Mengapa Ini Hoax?
- Pola Umum: Teori konspirasi seperti ini meledak setelah bencana (misalnya, HAARP dituduh picu gempa Haiti 2010 atau Turki 2023), tapi selalu dibantah ilmuwan. Di Aceh, ini campuran fakta (gempa + cahaya) dengan spekulasi (senjata + motif). Video cahaya biru mungkin asli, tapi interpretasinya salah—bukan bukti rekayasa.
- Saran: Verifikasi dari sumber resmi seperti BMKG atau jurnal ilmiah. Hindari membagikan tanpa cek fakta, karena bisa menimbulkan kepanikan di wilayah rawan bencana seperti Aceh. Jika ada video spesifik, bisa dicek lebih lanjut untuk konteks.













