Example floating
Example floating
Opini

ANTARA CINTA, LELAH DAN RINDU DI MADINAH

283
×

ANTARA CINTA, LELAH DAN RINDU DI MADINAH

Share this article
Erwinsyah Putra Petugas Haji Indonesia, Koordinator Tusi Akomodasi Sektor IV – Daerah Kerja Madinah, 2026

 

Erwinsyah Putra
Petugas Haji Indonesia, Koordinator Tusi Akomodasi Sektor IV – Daerah Kerja Madinah, 2026

delinews24.net – Ada lelah yang bentuknya kunci kamar, ada rindu yang baunya seperti deterjen + kurma Ajwa, saya berkhidmat sebagai petugas haji Indonesia yang melayani jamaah haji bidang Akomodasi, Tulang punggung “rumah” jamaah di Madinah.

Kalau petugas lain mengantar jamaah ke Raudhah, saya memastikan mereka punya tempat pulang setelahnya.
Sederhana di kertas tapi di lapangan, bagi saya ini adalah sebuah jihad kecil.

“Pak, AC kamar 412 mati, Ibu-ibu kepanasan.”
Lalu kita bergegas, sambil jalan mikir : besok pagi 400 an jamaah akan datang, kruki kamar sudah harus ada, pastikan ploting kamar sudah selesai oleh siskhohat, dan kamarpun juga harus ready.
Ada hal hal yang sering kami alami saat menerima WhatsApp dari jamaah atau petugas kloter:
“Pak, wastafel mampet.” “Pak, kartu akses error.”
“Pak, handuknya kurang,
Satu-satu diberesin. Teknisi hotel, cleaning service, security, semua jadi saudara.
Bahasa isyarat + bahasa Arab pas-pasan + senyum, itu modal utama kami. Ada kalimat kalimat yang lama lama mulai terbiasa di telinga kami :
“Suwaiya, suwaiya”
“Kam ghurfah?”
“Hadza funduk Karam Al Madinah”

Check-in 400 jamaah sekaligus? Itu layaknya sebuah perang.
Gelang, kartu kamar, pembagian kamar sesuai data manifest, koper yang belum datang, bahkan hingga 2 harinsejak tiba di Madinah belum juga diketemukan.
Ada bapak-bapak ngotot : “Saya mau sekamar sama teman ngaji 40 tahun!”
Ada ibu-ibu nangis: “Nak, saya takut tidur sendiri.”
Kami atur ulang, tukar kamar, rayu pelan, ajak karom dan ketua kloter diskusi, bahkan tak jarang kami kelurkan senjata khas kita dalam menghadapi para petugas kloter : “bapak ibu ini sama sama petugas haji seperti saya, jadi jangan malah bapak ibu memposisikan diri sebagai jamaah sehingga harus memprotes kami, mari kita carikan solusinya bersama”, Sampai akhirnya semua tenang.

> Di antara tumpukan master key dan daftar nama,
> Aku jadi bapak, jadi kakak, jadi tukang kunci, jadi penenang.
> Rumah sementara ini, aku jaga seperti menjaga rumah ibuku sendiri.

Beberapa Kejadian yang “ada di akomodasi Madinah”
Drama koper: Koper jamaah Kloter yang pecah hotel ke sektor 1 belum ketemu.
Kami tanya kekawan kawan akomodasi di sektor 1, Alhamdulillah ketemu, pas diserahin, mas mas pemilik koper girang karena sempat hilang 2 hari.

Drama kartu akses: 50 kartu demagnetik karena ketempelan HP.
Antrian panjang di meja resepsionis. Jamaah ngantuk, kami pun juga.
Tapi ada bapak sepuh bilang: “Gak apa-apa nak, anggap sedekah jalan kaki ke lobi.”
MasyaAllah, sabarnya jamaah Indonesia ngalahin capek kami.

Alarm asap hotel bunyi, seluruh lantai heboh, security datang, entah ada yang merokok di kamar, entah ada yang masak dikamar,
Ketika kami berpikir ingin membuat tulisan “Dilarang masak di kamar”, diam-diam kami paham: kangen masakan rumah itu nyata.

Lelah yang dibayar lunas oleh cinta
Lelah Tusi Akomodasi itu unik, idak kelihatan, Jamaah ingat muthawif yang ceramah, ingat dokter yang ngobatin.
Tapi jarang yang ingat petugas yang ganti lampu kamar atau sekedar menyerahkan handuk.

Tapi Allah lihat.
Lunasnya saat jamaah bilang: “Alhamdulillah kamarnya nyaman, nak. Bisa ibadah tenang.”
Lunasnya saat kakek kakek peluk saya: “Terima kasih sudah jagain rumah kami di tanah orang.”
Lunasnya saat sholat di Masjid Nabawi, saya bisik: “Ya Allah, terima kasih izinkan aku jadi ‘penjaga pintu’ tamu-Mu.”

Melayani akomodasi = melayani ketenangan ibadah mereka.
Kalau kamar nyaman, wudhu lancar, tidur cukup, maka ke Raudhah mereka lebih khusyuk.
Berarti pahala mereka, ada bagian kecil untuk kami juga. InsyaAllah.

Pamitan seorang penjaga pintu.
Nanti saat musim haji selesai, kunci master saya kembalikan.
Kamar-kamar kosong, sprei digulung, nama jamaah dihapus dari sistem.
Saya akan jalan terakhir keliling lorong hotel. Sentuh tiap gagang pintu.

> Wahai kamar-kamar di Madinah,
> Kau saksi tangis rindu jamaah tengah malam.
> Kau saksi sujud syukur setelah bertahun tahun menabung.
> Maaf kalau ada dinding yang kami coret, lampu yang kami borosin.
> Kami hanya ingin, di sini mereka merasa “pulang”.

Lalu saya menoleh ke Kubah Hijau dari jendela hotel.
Berbisik pelan: “Ya Allah, kalau Engkau ridho, kembalikan aku lagi ke sini.
Bukan untuk gaji. Bukan untuk nama.
Tapi untuk jadi penjaga pintu lagi. Penjaga lelah. Penjaga cinta.”

Karena saya sudah paham :
*_Tusi Akomodasi itu bukan cuma urus kamar.
Kami urus rasa “aman” dan “tenang” untuk tamu Allah, juga rasa cinta_*
Lelah? Iya, bahkan kadang sampai ke tulang, tapi cinta ke Madinah, cinta ke Rasulullah, cinta karena khidmah ini…
Itu yang bikin kunci seberat apapun, tetap ringan di genggaman.

Jejak Khidmat di Madinah
Tugasku adalah Ibadahku

Jejak Khidmat di Madinah
Tugasku adalah Ibadahku

Example 120x600