CERBUNG

Arwah Penasaran 2

×

Arwah Penasaran 2

Sebarkan artikel ini

 

Aku membuka mata perlahan, terdengar mesin pendeteksi denyut jantung terus berbunyi meski sedikit lambat. Aku melihat Mas Farhan dan Ardi, adik ipar sekaligus sahabatku yang sedang menatap ke arahku.

“Apa Mas tetap akan menikah hari ini?” tanya Ardi lirih.

“Aku sudah janji sama Luna,” jawab Mas Farhan tidak kalah lirih.

“Saat ini Laras koma, Mas,” Ardi mengangkat telunjuknya kepadaku.

‘Koma?’ Aku bangkit dan menghampiri mereka.

“Aku tidak mau dimadu, ceraikan aku sebelum kamu menikah, Mas!” ujarku berusaha menarik stelan jas hitam yang Mas Farhan kenakan saat ini, namun nihil. Tangan ini tidak bisa menjamahnya. Mereka bahkan tidak menganggap aku ada. Aku hanya bisa mematung.

“Kasian Laras, Mas,” Ardi terus mencegah niat kakaknya itu.

“Dalam berumah tangga ada di mana kita berada di titik jenuh. Aku sedang merasakan itu, aku bosan dengan rutinitas di kantor dan pemandangan rumah yang hanya ada kamu, pembantu kita, Mika anakku, juga Laras. Apalagi sekarang Laras tidak secantik dulu, ia bahkan malas berdandan.”

‘Bosan, jadi alasan Mas Farhan ingin menikah lagi karena bosan?’ terus bergumam, menangis tapi tidak ada airmata yang menetes.

“Kamu egois, Mas. Kalau kamu sudah bosan dengan Laras tinggalkan dia, jangan kamu sakiti dia dengan mendua.”

“Aku tidak bisa, Mika akan menjadi korban dalam hal ini.”

“Terus sekarang kamu akan menikah, apa Mika tidak akan jadi korban?”

“Tidak, kalau aku merahasiakannya dan akan memberi tahu, nanti. Jika Mika sudah mengerti.”

“Mas, lihat Laras! Ia sedang berjuang antara hidup dan mati, kamu…” ucapan Ardi terhenti ia menyeka pipinya yang sudah basah.

Perlahan aku menoleh ke belakang, kenapa Ardi sejak tadi mengatakan kalau aku ini koma, jelas sekarang aku berada di antara mereka.

Deg!

Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat, tubuhku sedang terbaring di atas ranjang dengan beberapa selang yang menempel, alat bantu pernafasanpun terikat kuat di hidungku.

Apa ini? Apa aku benar-benar koma? Jadi sekarang aku hanya sebuah ruh tanpa wujud terlihat? Tuhan….

“Aku harus segera pergi. Luna sudah menungguku,” ucap Mas Farhan, kemudian menghampiri tubuhku.

“Ras, maafkan aku. Aku masih mencintaimu, tetapi aku tidak bisa menolak hadirnya wanita lain yang datang dalam hidupku. Aku jatuh cinta pada Luna. Setelah kamu sadar nanti, aku janji akan bertindak adil terhadap kamu dan Luna,” lirih Mas Farhan sambil mengelus tanganku.

Aku yang menangis tersedu, membuat airmata keluar dari mataku yang terpejam itu.

“Pergilah, Mas, biarkan aku di sini menjaga Laras.” Ardi mendekatiku lalu mengusap airmata yang berlinang.

Mas Farhan pergi meninggalkan ruangan ini. Diwajahnya bahkan tidak terlihat rasa bersalah sedikitpun.

“Aku tahu, Ras. Saat ini kamu masih bisa mendengar dan merasakan apa yang terjadi, cepatlah bangun. Mika menunggumu di rumah.”

Ardi duduk di kursi yang ada di samping ranjang kemudian membacakanku sebuah buku. Sementara aku yang kini hanya ruh, menembus tembok dan mengejar Mas Farhan, aku ingin melihat sejahat apa dia terhadapku. Aku koma, dia malah akan menikahi wanita lain.

***

“Saya terima nikah dan kawinnya Aluna binti Marwan dengan maskawin tersebut, tunai.”

“Sah…”

Mas Farhan menepati janji pada Luna, namun telah melanggar sumpah pernikahan denganku yang akan setia hanya satu istri. Rasanya sakit sekali hati ini, andai saja aku bisa menyentuh mereka ingin aku menarik sanggul di kepala Luna dan mendorongnya ke kolam yang ada di depan Masjid.

“Kamu jahat, Mas.”

Tidak sanggup terus melihat kebahagiaan yang mereka tunjukan, aku kembali ke rumah sakit. Apa mereka tidak punya hati nurani? Menghianantiku disaat aku sedang tidak berdaya. ‘Pengecut, jahat, penghianat’ aku terus mengumpat sepenjang perjalanan.

Sesampainya di rumah sakit, di ruang VVIP tempat aku terbaring koma, Ardi tertidur di kursi sambil memegangi buku yang mungkin sejak tadi dia baca. Terdengar suara seseorang membuka pintu. Ternyata perawat, ia membangunkan Ardi, katanya ada pasien yang sudah menunggu. Ardi adalah dokter anak.

“Ras, aku keluar dulu. Aku tahu kamu perempuan tangguh, berjuanglah untuk bangun,” lirihnya di telingaku, kemudian pergi dan perawat tadi mengekor dibelakang.

Andai yang mengatakan itu Mas Farhan, suamiku, bukan Ardi.