CERPEN

Perjuangan Ibu

34
×

Perjuangan Ibu

Sebarkan artikel ini

“Jangan menangis nak. Yang penting buat biaya sekolah sudah ibu bayar.”

“Tetapi ibu selalu di cari orang tiap harinya. Sena takut, bu,” isaknya sambil memeluk ibunya.

“Sena! Ingat satu hal. Jangan menangis lagi. Apa yang ibu lakukan semua buat Sena. Sekarang tinggal belajar yang giat. Dan jadilah apa yang seperti kau ingin. Itu saja permintaan ibu Sena. Dan untuk semua yang ibu lakukan semua demi Sena. Sekarang masuk kamar. Belajarlah buat persiapan besok. Ibu sayang Sena,” katanya sambil meninggalkan Sena di ruang tamu.

Sena bocah kecil itu lalu berjalan menuju kamarnya. Selintas ia melihat ibunya berjalan keluar rumah. Ia tahu ibunya akan melamun di bangku teras sampai malam. Sekali waktu ia pernah memergoki ibunya yang menangis sesenggukan di tengah malam di ruang tamu. Dan dilain waktu ia pernah memergoki ibunya yang menjual baju terakhirnya. Sena tahu itu dan cuma bisa ikut menangis tanpa bisa berbuat apa apa.

Rena menangis di teras malam itu. Kembali ia meneteskan air mata. Beban hidup yang harus di tanggung sebagai seorang ibu tunggal dengan segala kemiskinannya benar-benar membuatnya terpuruk. Semenjak Hardi suaminya meninggal, ia harus berjibaku seorang diri. Senalah yang membuat ia bertahan. Ia tak ingin kehilangan senyum dari bocah kecil yang sangat ia sayangi.

Ia tak peduli pada gunjingan orang yang menjulukinya sebagai pengutang. Pengutang yang tak pernah bayar. Di tagih menghilang.

“Kalian hanya penghujat. Kalian tak pernah tau apa yang aku rasakan. Akupun ingin seperti kalian. Tak punya utang. Tak dikejar-kejar debt collector bank harian. Bisa beli apa yang di inginkan tanpa berhutang. Kalian tidak di posisi aku, sehingga tak merasakan apa yang aku rasakan. Tiap hari harus kucing-kucingan menghindari para penagih. Cobalah sehari saja kalian jadi aku,” gumamnya sambil terisak.

Ia selama ini jadi gunjingan para tetangga. Mereka terlihat senang ketika melihat beberapa lelaki berjaket mencarinya. Bahkan dengan senang hati menunjukan rumah Rena dengan di tambahi bumbu provokasi.

Sekali waktu ia tak sengaja mendengar para tetangga yang membicarakannya pada sebuah kumpulan ibu-ibu dusun. Ia ingat betapa mereka begitu semangat menggunjing tentangnya. Tentang hutang di mana-mana dan ketika di tagih lebih galak. Bahkan bumbu-bumbu pembicaraan mereka tambah untuk mempermanis cerita. Hal yang membuat ia tak jadi masuk kerumah untuk ikut kumpulan bersama mereka. Ia menangis sambil berjalan pulang mendengar celotehan tetangga yang cuma baik di muka.

Nasip setiap orang berbeda-beda. Tak semua orang bisa memenuhi kebutuhannya. Tidak semua sukses dalam finansial. Tak ada dalam hati Rena untuk tidak membayar hutangnya. Andai saja semua tercukupi ia tentu tak akan berhutang.

Seperti malam ini. Rena kembali dalam kebingungan. Selesai satu masalah, ternyata masalah baru timbul. Ia tak lagi punya uang untuk membeli beras. Sementara uang hasil berhutang sudah ia berikan buat membayar biaya sekolah anaknya. Kemana lagi ia harus mencari sementara hutang yang kemarin belum juga terbayar.

“Bu…”

Sebuah panggilan mengagetkan semua lamunan rena. Ia bergegas mengelap air matanya. Ia tak ingin anaknya tahu apa yang terjadi pada ibunya.

“Kenapa keluar dan belum tidur Sena?” tanya ibunya sambil memeluk Sena.

“Sena tak bisa tidur tanpa ibu. Sena…,” katanya tak melanjutkan bicaranya. Ia memeluk ibunya sambil menangis. Bocah itu tahu apa yang sedang berkecamuk pada ibunya.

“Hei…heii.. Sena kenapa menangis. Ibu tak apa-apa,” ujarnya sambil menahan kering pada tenggorokannya. Sakit sekali hatinya.

“Ibu…” Tangisan Sena meledak.

Rena memeluk erat tubuh kecil itu. Remuk hati seorang ibu melihat tangis. Ia sadar kalau Sena sudah tahu semua permasalahan yang dialaminya.

Ia kemudian menuntun bocah itu masuk kedalam kamar. Tak lupa Rena mengunci pintu depannya.

“Sekarang tidurlah. Ibu akan selalu memelukmu,” bisiknya lirih sambil menyelimutinya.

“Iya bu. Ibu jangan lagi menangis. Besok Sena tak membawa bekal tak apa apa,” katanya sambil memeluk ibunya.

“Tidurlah Sena. Soal bekal tak usah engkau memikirkanya. Selama ibu masih ada, apapun akan ibu carikan dan ku usahakan. Jadilah anak yang berguna,” katanya dalam hati.

Malam semakin larut, tetapi Rena tak bisa memejamkan mata. Ia masih berpikir untuk pinjam kesiapa lagi untuk membeli berasnya.