banner idul fitri
CERPEN

Buka di Luar Vs Buka di Dalam

116
×

Buka di Luar Vs Buka di Dalam

Sebarkan artikel ini

“Pah, lihat, nih! Mbak Mela barusan post story WhatsApp. Dia lagi di kedai sate maranggi sama suami dan anak-anaknya, loh, Pah.” Aku tunjukkan ponsel kepada Papah—sebutan untuk suamiku.

 

“Ya, terus?” Dia mengernyitkan dahi sembari melihat ponselku dengan malas.

 

“Aku mau juga, dong, Pah, buka di sana. Makan sate maranggi gitu,” pintaku dengan memasang raut wajah memelas kepada Papah.

 

“Ya, udah, ntar Papah beliin sate yang di depan Alfa aja, ya!” ucapnya santai tanpa menoleh ke arahku.

 

“Ish! Itu mah sate Mas Ragil, Pah, bukan sate maranggi.” Aku protes kepadanya seraya mengerucutkan bibir.

 

“Sama aja, Mah. Semua sate juga ditusuk dan dibakar.” Perkataan Papah memang ada benarnya juga.

 

“Eh, Pah! Pah! Lihat ini! Dek Tia lagi foto selfie di sebuah kafe, nih, sama temen-temennya. Kayaknya mereka mau buka bersama juga. Duh, Mamah mau juga, Pah, minum es lemon tea.” Aku tunjukkan kembali ponselku kepadanya.

 

“Mamah mau? Ntar kita bikin, Mah. Gampang itu, tinggal bikin teh manis terus kasih jeruk peras dikit.” Papah seperti biasa bersikap santai dan cuek.

 

“Beda, dong, Pah!” Aku protes lagi kepada suamiku itu.

 

“Ya, sama aja, Mah. Beda penyebutannya doang,” jelas dia lagi dengan santai.

 

“Bukan gitu maksudnya, Papah! Mamah mau buka di luar kaya orang lain gitu, Pah. Pengen cari udara segar.” Aku sedikit kesal kepada suamiku yang tak peka itu.

 

“Mamah mau buka di luar? Baiklah, besok aja, ya, sekarang udah tanggung. Udah, jangan maen HP terus! Timbangin terigu, nih!” perintah Papah kepadaku sembari menyodorkan karung berisi terigu.

 

Aku dan Papah mempunyai toko sembako kecil-kecilan di rumah. Alhamdulillah kami sudah memiliki pelanggan tetap. Apabila kami menutup toko ini, para pelanggan pasti akan mengeluh, apalagi di sore hari saat hendak berbuka puasa.

*****

 

Keesokan harinya ….

 

“Pah, jadi enggak? Katanya mau ngajak buka di luar?” tanyaku kepada Papah yang tengah sibuk melayani pembeli.

 

“Jadi, dong, Mah. Kita tutup warungnya udah Ashar aja,” jawabnya sambil menghitung jumlah belanjaan salah satu pelanggan kami.

 

“Hore! Makasih, Pah. Papah baik banget, deh,” pujiku seraya melemparkan senyum semringah ke arahnya.

 

Sambil melayani pembeli di warung, aku tengok terus jam dinding. Rasanya tak sabar ingin segera sore hari.

 

“Allahu Akbar! Allahu Akbar!”

 

Alhamdulillah sudah azan Ashar lagi. Aku bergegas ke kamar mandi untuk mengambil wudu sekalian mandi.

 

“Pah, aku mandi dulu, ya. Papah nanti tutup sendiri warungnya!” pamitku kepada Papah, dia hanya menganggukan kepala saja.

 

Saat di kamar mandi, sayup terdengar suara rolling door warung yang ditutup oleh Papah. Juga terdengar suara mesin motor yang dihidupkan. Sepertinya, Papah mau pergi keluar. Entah mau ke mana?

******

 

Saat aku sedang salat Ashar, terdengar suara Papah kembali memasuki rumah. Suara langkah kaki pun terdengar menaiki tangga menuju loteng atas.

 

Setelah selesai salat di dalam kamar, aku memilah-milih gamis dan kerudung yang terbaik untuk dipakai sore ini. Tak lupa jam tangan kesayangan pun aku kenakan. Satu lagi, tas selempang jangan sampai ketinggalan.

 

Aku lalu mematut pada cermin seraya berdecak kagum.

 

Uluh, uluh … pokoknya oke banget penampilanku saat ini.

 

Terdengar kembali, suara langkah kaki Papah menuruni anak tangga dari loteng.

 

“Pah, dari mana, sih? Papah kenapa masih pake celana pendek?”

 

Aku mengernyitkan dahi. Karena merasa heran kepada Papah yang belum bersiap-siap.

 

“Bentar, ya, Mah. Papah mau wudhu dulu,” pamitnya seraya masuk ke kamar mandi.

 

Saat aku sudah siap, aku lihat Papah masih melaksanakan salat Ashar di kamar kosong yang terletak di samping kamar kami. Aku pun dengan sabar menunggunya.

 

“Mah, Papah dah beres salatnya. Ayo!” Papah menghampiriku yang sedang duduk bersandar di kursi.

 

“Loh, kenapa masih pake celana pendek, sih, Pah?” tanyaku merasa heran sembari menunjuk pada celana pendek bermotif kotak-kotak yang dia pakai.

 

“Ah, udah … gini aja, Mah.” Lagi-lagi Papah bersikap cuek.

 

“Ish, Papah! Jangan bikin malu, dong. Masa keluar rumah, cuma pake celana pendek, doang?” Aku melayangkan protes kembali kepadanya.

 

“Ayo, ah, Mah, berangkat!” Dia tak mau mengganti celananya itu.

 

“Y-ya, ayo! Sebentar, Pah, aku mau ambil dulu helm di kamar!” Aku beranjak dari kursi berniat mau ke kamar. Namun, Papah mencegahku.

 

“Enggak usah pake helm segala, Mah!”

 

“Lah? Ntar gimana kalau di jalan ada polisi, Papah?”

 

Entah sudah berapa kali, aku protes kepada Papah.

 

“Aman, Mah. Ayo, naek ke atas loteng!” perintahnya sembari menarik lenganku.

 

“Loh, mau ngapain ke atas loteng, Pah? Jemuran udah Mamah angkat dari tadi.”

 

Aku semakin bingung dengan sikap suami cuekku itu.

 

“Ayo, cepetan naik! Jangan banyak nanya!”

 

Papah tetap memaksaku untuk menaiki anak tangga.

 

“Mau ngapain, sih, Pah? Buruan, ah, keburu magrib, nih.” Raut wajahku pasti tak enak dipandang saat ini. Aku kesal kepada Papah, tetapi mau tak mau aku harus ikut dia menaiki tangga ke atas loteng.

 

Ketika telah sampai di loteng lantai tiga rumah ini, Papah segera membuka pintunya.

 

“Taraaa! Kejutan!” ujar suamiku itu dengan semringah.

 

Aku lihat di loteng tempat jemuran itu, sudah ada tikar yang tergelar. Di atas tikar itu juga ada beberapa piring kosong, teplon magicom, dua gelas berisi air teh, satu botol air putih, dan bungkusan seperti bungkusan sate.

 

“Apa maksudnya ini, Pah?” tanyaku bertambah bingung.

 

“Mamah ‘kan mau buka di luar. Papah kabulin, Mah, di sini. Papah udah beli sate Mas Ragil, tuh! Udah bikin lemon tea juga. Gampang, kok, bikinnya. Bikin dulu teh manis, terus kasih perasan jeruk peras dari Mas Ragil. Tadi, Papah minta jeruk perasnya agak banyakan.”

 

Tanpa beban, Papah menjelaskan maksudnya dengan santai.

 

“Papah! Maksudku buka di luar itu, di restoran atau di kafe, Pah! Bukan gelar tikar di tempat jemuran kayak gini.”

 

Aku melipat tangan sembari menahan rasa amarah ini.

 

“Sini, Mah, duduk dulu! Jangan marah-marah! Pemandangan di atas sini bagus banget, Mah. Kita bisa lihat genting-genting dan jemuran tetangga yang melambai-lambai. Indah banget, ‘kan, Mah?”

 

Dia lalu bersila di karpet sembari menunjuk pada jemuran Mbak Nuri—janda tetangga sebelah kami.

 

“Papaaah!”

 

“Mah, kita jangan ikut-ikutan orang yang suka post story tentang keseharian mereka. Sesuaikan aja dengan kemampuan masing-masing, Mah. Orang lain bisa buka di luar, mungkin mereka memiliki waktu luang. Nah, kita ‘kan kebetulan punya warung sembako, kalau warung tutup, sayang juga ‘kan?”

 

Aku sejenak terdiam mencerna ucapan suamiku itu. Sepertinya benar yang dikatakannya. Kondisi dan situasi masing-masing orang tentu berbeda, jangan memaksakan ingin seperti mereka yang tampak bahagia hanya di depan mata saja.

 

“Allahu Akbar! Allahu Akbar!”

 

Alhamdulillah, waktunya berbuka puasa telah tiba. Ternyata, buka di sini nikmat juga, dengan ditemani oleh embusan angin sepoi-sepoi dan pemandangan yang tak kalah indah dari pemandangan di sebuah kafe.

 

“Meong! Meong! Meong!”

 

Terlihat juga kucing tetangga yang sedang kejar-kejaran dengan seekor tikus di atas genting rumah kami. Rasanya, seperti buka puasa seraya menonton bioskop.