delinews24.net – Di balik ketatnya sistem komputerisasi Seleksi Penerimaan Taruna Baru (SPTB) Politeknik Agraria STPN Tahun Akademik 2026/2027, tersimpan ragam kisah perjuangan, tekad, dan optimisme tinggi dari para peserta. Sebanyak 2.114 anak muda dari berbagai penjuru tanah air bersaing ketat untuk memperebutkan kursi emas di kampus kedinasan milik Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) tersebut.
Ajang seleksi yang berlangsung simultan di Yogyakarta dan Cikeas sejak awal Juli ini menjadi panggung pembuktian bagi generasi muda yang bercita-cita mengabdikan diri pada sektor penataan ruang dan reforma agraria nasional.
Aditya Rahman: Jeli Bidik Potensi Tata Ruang Indonesia
Salah satu potret militansi peserta ditunjukkan oleh Aditya Rahman (17), calon taruna asal Kota Bandung, Jawa Barat. Remaja yang membidik Program Studi Manajemen Penataan Ruang dan Pertanahan (MPRP) ini mengaku terdorong mendaftar karena melihat Indonesia memiliki potensi tata wilayah yang sangat masif namun belum sepenuhnya terkelola secara berkelanjutan.
“Saya tetap semangat dan optimis dalam mengikuti ujian kali ini karena saya ingin mengabdi untuk Indonesia, khususnya di bidang tata ruang yang masih memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Sangat disayangkan jika potensi itu tidak dimanfaatkan dengan baik,” ungkap Aditya usai merampungkan ujiannya.
Guna menembus ketatnya persaingan, Aditya telah mencurahkan waktu berbulan-bulan untuk melahap materi matematika, pengetahuan umum, hingga regulasi dasar keagrariaan. Ia bahkan aktif berdiskusi dengan para senior STPN untuk memetakan pola ujian.
Meski sempat tegang, Aditya menilai materi ujian masih koridor adaptif, walau peserta dituntut memiliki tingkat ketelitian tinggi akibat banyaknya soal yang disajikan dalam bentuk narasi panjang.
Malika Putri: Filosofi Tanah yang Melekat pada Kehidupan Manusia
Cerita inspiratif lainnya datang dari Malika Putri Aprilia Permana (18), calon taruni asal Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Remaja putri ini memantapkan pilihannya pada Program Studi Kebijakan dan Manajemen Pendaftaran Tanah (KMPT). Baginya, urusan pertanahan bukan sekadar dokumen birokrasi, melainkan pilar mendasar dari eksistensi manusia.
“Menurut saya, tanah adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Semua yang kita lakukan berawal dari tanah dan pada akhirnya kembali ke tanah. Karena itu, saya ingin mempelajari bidang pertanahan lebih dalam,” tutur Malika dengan filosofis.
Demi memuluskan langkahnya masuk asrama, Malika telah membangun disiplin belajar rutin setiap hari sejak masih duduk di bangku kelas XII. Baginya, tantangan terbesar dalam SPTB tahun ini bukan terletak pada tingkat kesulitan soal yang mengecoh, melainkan bagaimana mengendalikan kondisi psikologis di dalam ruang ujian.
“Tantangan terbesar bukan dari soal ujiannya, tetapi bagaimana saya bisa mengalahkan rasa takut dalam diri sendiri. Saya optimis dan berusaha tetap percaya diri,” tegasnya.
Alur Seleksi Lanjutan Menuju Status Taruna Resmi
Sebagai informasi, posko ujian tertulis berbasis komputer (Computer Based Test/CBT) gelombang ini telah dilaksanakan pada 1–4 Juli 2026 di Kampus Utama Politeknik Agraria STPN Yogyakarta, serta pada 2 Juli 2026 di Gedung BPSDM Kementerian ATR/BPN, Cikeas, Kabupaten Bogor.
Perjuangan Aditya, Malika, dan ribuan peserta lainnya belum usai. Bagi para peserta yang nantinya dinyatakan lolos ambang batas dokumen dan nilai ujian CBT, mereka harus bersiap menghadapi fase seleksi lanjutan yang tidak kalah kompetitif, meliputi pemeriksaan kesehatan terpadu, uji kesamaptaan fisik, serta wawancara pendalaman bakat sebelum resmi dikukuhkan sebagai Taruna/i Politeknik Agraria STPN Tahun Akademik 2026/2027.













